WISATA KOTA

Standar

Di saat liburan tlah tiba…..tentu saja kita ingin berlibur,
membunuh jenuh…….melepas rutinitas….
namun manakala uang sedang pas-pasan
tengah bulan pula….tapi kaki tetap ingin melangkah….pelesir
mata ingin dimanja, tak melulu melototin TV atau majalah
jiwa ingin dibasuh oleh pengalaman
pikiran merindu Segara Wawasan
seluas samudera
Wisata Kota adalah solusinya.
 
Inilah rute Wisata-ku :
Priok – Pelabuhan Sunda Kelapa – Kantor Syahbandar – Museum Bahari (Pasar Ikan) – Galangan VOC – Museum Sejarah Jakarta (Fatahillah) – Museum Bank Indonesia – Museum Bank Mandiri – TPI (Muara Angke).
 
Minggu 13 Juli 2008
 
PELABUHAN SUNDA KELAPA
 
Aku, bokap dan adik cowokku bertolak dari Priok pukul 08.30 wib
menuju Pelabuhan Sunda Kelapa – Jakarta Utara. Berbekal cemilan & air mineral secukupnya, ga lupa bawa kamera juga donk. Menumpang Mikrolet M15, kami tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa jam 9.15 wib. Menyusuri dermaga Pelabuhan Sunda Kelapa sambil memotret beberapa kapal dan aktivitas pelabuhan. Dari ujung ke ujung yang bentuknya seperti huruf U. Setelah puas, kami berteduh di sebuah lapak yang sedang tidak dipakai jualan,
disisi jalan dermaga. Sambil ngemil, kami mencermati sekeliling. Ada rombongan turis asing _ sekeluarga, dipandu seorang guide, melintas di depan kami. Tak lama ada 2 orang cewek, lagi-lagi turis asing, melintas bersama seorang guide. Sejenak kemudian datang serombongan turis asing lagi, kali ini sepertinya dari travel. Rombongan ini mencoba naik ke salah satu kapal yang tertambat, melalui titian papan kayu setapak. Hohoho….sungguh berani mereka, padahal tak ada pegangan, lagipula kalau terpeleset kan mereka langsung tercebur ke laut. Fiuh….teriknya mentari menyadarkanku bahwa kini sudah pukul 10.30 wib, kami meninggalkan Pelabuhan Sunda Kelapa.
 
KANTOR SYAHBANDAR
 
Kini, kami melangkah ke kantor Syahbandar yang letaknya tidak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa. Kira-kira jalan kaki cuma lima menit, dengan ritme langkah sedang, ga terlalu cepat dan ga terlalu lamban. Kantor tua itu sudah tidak dipakai lagi, tapi kondisinya masih cukup bagus kok. Letaknya ada di tikungan jalan, di pinggir kali, setelah jembatan ada disisi kanan jalan kalau kita dari arah Pelabuhan Sunda Kelapa. Di seberang jalan ada Galangan VOC.
Kantor Syahbandar ini, ada empat lantai. Bentuknya seperti menara pengawas. Sebagaimana fungsi Syahbandar adalah sebagai administrator pelabuhan. Dari pintu masuk pun kita sudah dihadapkan oleh tangga ke lantai atas. Namun, di sisi kiri tangga ada ruang sempit yang memajang beberapa foto kapal, mercu suar & aktivitas kepelabuhan. Di setiap pertengahan tangga antar lantai, ada sebuah lukisan di dinding yang dominan melukiskan pelabuhan & kapal. Dengan kondisi tangga kayu dimana jarak antar anak tangga tanpa penutup, maka aku berhati-hati melangkah, nggak mau kalau kaki ini patah gara-gara tergelincir ke celah itu. Menapaki tangga ke lantai tiga, lututku agak lemas disertai peluh di kening. Bukan..bukan…karena kegerahan. Sekonyong-konyong tubuhku merasa limbung. Ku pegang erat pegangan tangga. Oh, mungkinkah aku takut ketinggian ? Inikah phobia-ku yang baru kuketahui ? Olala, adikku juga merasakan hal yang sama. Setahuku, bokap emang phobia ketinggian. Tapi buktinya beliau biasa-biasa aja tuh  berjalan di depan kami. Oh…oh, mungkinkah phobia itu seperti penyakit keturunan ? Dan kini, aku & adikku terserang phobia secara kolektif ? Bahkan saat kami berada di lantai tiga, aku hendak memotret
Pelabuhan Sunda Kelapa dari salah satu jendela, merasa ada guncangan lemah seperti gempa bumi. Berulang beberapa kali. Ku sampaikan ke bokap. Beliau bilang itu hanya pengaruh gaya gravitasi terhadap ketinggian tempat kami berada. Plong ! Syukurlah, berarti apa yang kurasakan bukan gejala phobia.Hahaha….kecemasan yang berlebihan ya ?!
 
PASAR IKAN & MUSEUM BAHARI
 
Kenapa nama kedua tempat itu kugabungkan dalam penulisan ? Karena sebenarnya kedua tempat tersebut berada di satu lokasi, saling berhadapan. Tepatnya di belakang kantor Syahbandar. Pasar Ikan ini memanjang di sisi kanan & Museum Bahari di sisi kiri jalan. Namanya sih emang Pasar Ikan, tapi aku kok nggak liat orang jual ikan ya ? Emang sih aku cuma melewati beberapa toko yang jual alat-alat pancing, caping, congklak, bahkan rebana. Yah, hanya sebatas jalan menuju pintu masuk Museum Bahari saja. Biaya masuk Museum Rp 2.000/orang. Wuih, lagi-lagi ketemu sama turis-turis yang tadi di Pelabuhan Sunda Kelapa. Di museum ini banyak dipamerkan replika kapal / perahu dari berbagai daerah di Indonesia bahkan ada replika kapal VOC. Ternyata, ada beberapa perahu asli juga loh, tentunya dengan ukuran yang sebenarnya. Diantaranya ada perahu bercadik satu khas daerah Indonesia bagian timur. Favoritku adalah Phinisi Nusantara dengan tiga layar & perahu Lancang Kuning yang cantik. Selain itu, ada keterangan tentang hasil bumi masing-masing propinsi di Indonesia, hasil laut seperti ikan & kerang-kerangan, Bahkan, ikan-ikan itu diawetkan dalam air keras di stoples. Hii…aku nggak mau liat, nggak tega sekaligus jijik.Ada kerang-kerangan & kura-kura yang diawetkan, Ada replika ikan duyung. Ada replika mercu suar setinggi tiga meter. Ada maket Pulau Onrust yang indah. Ada sejarah kedatangan Portugis & Belanda di Indonesia, lengkap dengan ilustrasi dalam lukisan & tokohnya. Wow…ada lukisan kedatangan orang Belanda di Pelabuhan Tanjung Priok pada abad ke-19. Fiuh…luas banget ternyata gedung berlantai dua ini yang dibangun pada tahun 1700-an. Jam telah menunjukkan pukul 12.30 wib. It’s time for lunch !
 
GALANGAN VOC
 
After lunch, kami nyebrang ke Jl.Kakap, dimana letak Galangan VOC berada. Namun, bangunan ini sudah dialihfungsikan sebagai sekolah musik & restoran Cina. So, kami meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Terminal Bus dimana terdapat Jembatan Gantung Sunda Kelapa. Jauh juga sih, mana panas. Heheh…olahraga di siang hari nih.
 
JEMBATAN GANTUNG SUNDA KELAPA
 
Ngeliat dari dekat seperti apa sih rupa si Jembatan yang terkenal itu ? Tiang-tiangnya dari kayu bercat merah. Dulunya sih jembatan ini bisa terbelah menjadi dua bagian di tengah kemudian dikerek sehingga terlipat ke masing-masing sisi sungai, agar kapal dapat melintas. Sekarang ? Sudah nggak dipakai tuh. Dari sini, kami lanjut jalan kaki lagi ke Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah).
 
MUSEUM SEJARAH JAKARTA (MUSEUM FATAHILLAH)
 
Nah, ini sih kunjunganku kedua di museum ini. Dulu waktu aku masih kelas 5 SD, sekitar tahun 90-an, sudah pernah kesini. Isinya…yah tentang sejarah Jakarta. Batu-batu prasasti yang ditemukan di sekitar Jakarta. Kebudayaan Jakarta, seperti ondel-ondel bahkan ada becak & warung rokok pinggir jalan segala lengkap dengan barang dagangannya : rokok, krupuk kaleng, snack, box pendingin minuman. Aku kurang begitu antusias di tempat ini, mungkin karena sudah pernah berkunjung kesini kali ya? Jadi rasa ingin tahuku kurang. Hanya tumpukan balok-balok besar yang lapuk, teronggok di salah satu sudut halaman belakang, menggugah keingintahuanku. Untuk apa balok-balok itu ada disana ? Tak ada unsur keindahannya sama sekali, mengganggu pemandangan saja. Ku mendekat. Ada papan keterangan disana, bahwa balok-balok itu telah tertanam selama seabad di bawah tanah alun-alun kota lama. Ditemukan saat pembuatan terowongan bawah tanah untuk jalan pengguna Trans Jakarta di Stasiun Kota. Ternyata, tampilan dari jauh seolah balok-balok itu telah lapuk. Namun, saat disentuh balok-balok itu masih kuat & liat. Setelah puas berkeliling, kami berjalan kaki lagi menuju museum Bank Indonesia.
 
MUSEUM BANK INDONESIA
 
Pukul 15.00 wib, kami tiba di museum Bank Indonesia yang letaknya diseberang Stasiun Kota. Wah interiornya indah sekali…..Asyik, gratis pula masuk kesini. Tas & jaket harus dititipkan di tempat penitipan barang. Walaupun gratis tapi tiap pengunjung diberi tiket masuk & wajib isi buku pengunjung. Sebelum masuk ke ruang pamerannya, ada komputer dengan touchscreen yang berisikan informasi tentang museum ini. Mulai dari arsitekturnya, sejarah pendiriannya, dsb. Lalu tak jauh dari situ ada pintu masuk.Begitu masuk kita akan disambut dengan “hujan duit” logam, hehehe….seru kan, tapi hujan duit hologram kok jadi nggak perlu khawatir benjol-benjol kepalanya. Maksudnya hujan duit hologram adalah ruangannya disetting gelap gulita terus hujan duitnya diproyeksikan ke dinding dari semacam proyektor. Ok lanjut, di ruangan berikutnya baru deh kita bisa ngeliat sejarah uang di dunia. Dan di dalam ruangan khusus ada aneka uang dari jaman dulu (hehe lupa koleksinya dari uang tahun berapa aja ya?) s/d yang sekarang. Yang dominan yah koleksi mata uang Indonesia lah. Ada uang yang aneh bentuknya loh, terbuat dari tenunan yang ditenun oleh putri raja, bentuknya abstrak seperti bentuk pulau, entah bentuknya itu mengikuti bentuk pulau asalnya atau bukan tapi yang pasti uang tersebut dipakai di Pulau Buton. Lebih asyik kalau liat sendiri deh.
 
MUSEUM BANK MANDIRI
 
Waktu di pintu keluar museum Bank Indonesia, kami disarankan untuk sekalian berkunjung ke museum Bank Mandiri yang ternyata bersebelahan dengan museum Bank Indonesia. Berhubung masih ada waktu 30 menit, maka kami putuskan untuk mendatanginya. Tiket masuknya Rp 2.000/orang & lagi-lagi disini tas harus dititipkan di tempat penitipan barang. Wow…besar sekali bank ini. Tak terbayangkan bagaimana aktivitasnya dulu saat masih dioperasionalkan. Disini ada banyak alat-alat kerja perbankan yang kuno, bahkan mesin ATM model lama juga ada. Berhubung jam 16.00 wib museum ditutup, maka kami harus segera keluar.
 
TPI – MUARA ANGKE
 
Setelah keluar dari museum Bank Mandiri, kami bertanya rute bus menuju Muara Angke pada pedagang asongan di depan gedung museum. Tak lama kami mendapati mini bus berwarna biru yang akan membawa kami ke Pluit. Sesampainya di Pluit, kami harus berganti kendaraan untuk sampai ke TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Muara Angke. Dengan menaiki sebuah angkot berwarna merah kami tiba di TPI – Muara Angke. Wuih, banyak sekali pedagang ikan disini. Bukan hanya aneka ikan yang dijajakan, tapi juga ada cumi-cumi mulai dari yang berukuran kecil sampai yang berukuran besar. Kijing (kerang ijo), kerang dara, kepiting, rajungan, dsb. Menyusuri jalan menuju dermaga yang di kanan-kirinya dipenuhi oleh pedagang ikan dan otak-otak ikan, hmm…mendapati sedapnya aroma daun pisang pembungkus otak-otak yang terbakar bercampur dengan bau ikan asin dan bau amis ikan segar, merupakan sensasi tersendiri. Oh ternyata, disini tepi pantainya tidak berpasir melainkan batu bersemen. Jadi kalau ada ombak yang menghantam dinding batu itu, air laut akan terciprat ke darat. Rame juga orang-orang berkerumun di tepi dermaga. Saat kami tiba disini, ada sebuah kapal yang sedang membongkar hasil melautnya. Mereka mengeluarkan berpeti-peti cumi yang telah dibekukan, lalu langsung ditimbang di tepi dermaga, pakai timbangan gantung dengan pengait. Setelah ditimbang, cumi-cumi itu dinaikkan ke atas gerobak panjang (seperti gerobak pengangkut air jerigenan) untuk dibawa ke TPI. Kami juga sempat bertanya pada pemuda setempat perihal bagaimana kalau kami ingin menyeberang ke Kepulauan Seribu. Karena banyak perahu penumpang disana dengan tujuan ke beberapa pulau di Kepulauan Seribu. Tapi karena hari telah senja, pukul 17.30 wib, kami putuskan untuk pulang.
 
Sampe rumah jam 19.30 wib. Wuih, dalam rentang pukul 08.30 – 19.30  wib, kami mendapat perjalanan seru.
Capek kah ? Ya nggaklah ! Puassssssss
 
Mungkin perjalanan wisata saya ini tak berarti apa-apa dibandingkan dengan liburan hebat seseorang yang bahkan sampai keluar negeri. Namun, itu tak membuat saya berkecil hati untuk menuliskan perjalanan saya kali ini. Toh, suatu perjalanan jauh selalu dimulai dengan langkah-langkah kecil. Mungkin kali ini saya baru memulai langkah-langkah kecil saya, mana tau lain kali saya akan melakukan perjalanan jauh. Amien. Selain itu, saya sedang berlatih mengintegrasikan sistematika pemikiran dengan sistematika penulisan. Semoga tulisan ini menyenangkan.
 
Salam hangat,

ANNE KELANA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s