SEBUAH PENUTURAN

Standar

“Aku ingin menjadi bagian dari Sejarah Dunia !” pekikku. Hehe, aku terkekeh dalam hati.

“Pemikiran gila. Sinting !” bantah temanku.

“Tapi…merupakan cita-cita yang hebat jika kau dapat mewujudkannya”. Sambungnya lagi, seperti ingin meralat ucapan dia sebelumnya.

Yah, itu adalah penggalan dialog antara aku dengan seorang teman, sepuluh tahun lalu saat aku kuliah semester dua.

Dua tahun belakangan ini, aku sering menekuri diri. Sebenarnya apa hakikat kelahiranku ke dunia ?

“Untuk beribadah kepada-Nya dan mencari ridha Illahi di setiap sendi-sendi kehidupanmu”. Petuah seorang teman kepadaku. Klise ? Tapi benar adanya. Disampaikan dalam kalimat sederhana tapi sulit dicerna. Memaksa otakku memamah-biak, mengunyah-ngunyah pemikiranku, agar ku peroleh saripatinya. Gimana caranya ?

Aha, Lilin !

Ya, aku akan meniru sifat lilin. Tapi, takkan mau mati seperti lilin. Tubuh lilin yang mungil dengan api kecilnya memberi cahaya di kegelapan. Memiliki sifat kasih dengan rela membagi apinya ke lilin lain agar mereka memiliki semangat yang sama, yaitu persahabatan. Karena takkan habis api itu dibagi, justru berlipat benderang cahaya mengelilingi mereka. Tak panjang memang usia sebuah lilin. Hingga pada saatnya kelak, cahaya itu akan padam, bersama dengan lebur tubuhnya. Begitulah makhluk, pasti mati setelah hidup.

Sungguh malang nasib lilin. Dia mati setelah memberi arti. Hanya sekali seumur hidup. Menurutku, tak cukup begitu dalam hidup. Jangan mati, setelah sekali memberi arti. Bukan maksud melawan kodrat, setiap makhluk pastilah mati. Jangan henti memberi arti untuk hidupmu, karena hidup hanya sekali. Tak jadi soal panjang atau pendeknya umur.

Satu-dua kali sempat ku merasa akan tutup usia saat itu juga. Karena rasa sakit yang tak tertahan menyekap kesadaran, aku jatuh pingsan. Detik-detik menjelang pingsan itulah yang membuatku merasa seperti mau mati. Betapa tidak ? Tubuhku menggeletar. Perutku melilit hebat. Gigi gemeletuk, tak kuasa aku menahan gesekan antara gigi atas dan gigi bawah. Tubuhku mengeluarkan keringat dingin. Kepalaku pening. Aku merasakan sesuatu yang hangat pergi meninggalkan tubuhku, dimulai dari ujung kaki terus naik hingga berhenti di kerongkongan. Saat itu, aku merasakan pias di wajahku. Aku sangat yakin jika aku dapat bercermin saat itu pasti wajah dan bibirku menampakkan kepucatan yang amat sangat. Kupingku tak dapat menangkap suara di sekitar, kecuali dengingan hebat yang terdengar. Lambat laun dengingan itu melemah bersama lemahnya kesadaranku. Aku hanya ingin tidur, mataku pun terpejam. Dunia menjadi pekat. Begitulah yang kurasakan. Entah seperti itukah rasanya menjelang mati ? Syukurlah, aku masih hidup sampai dengan sekarang.

Berbekal pengalaman itulah yang membuatku ingin memberi arti untuk hidupku. Aku hanya orang yang biasa-biasa saja. Tidak populer, tidak cantik, kepintaranku pun sedang-sedang saja. Saking tidak populernya, bahkan ada teman SMA-ku yang tidak menyadari bahwa aku pernah sekelas dengannya. Kebiasaanku pun seperti orang kebanyakan. Tapi, ada satu kebiasaan baru yang kucoba terapkan saat ini. Kebiasaan ini telah berlangsung selama 5 bulan terakhir. Setiap kali bepergian aku selalu membawa buku bacaan. Berangkat kerja pun selalu kusempatkan membacanya, baik saat di angkot maupun di bus. Tak peduli dengan goncangannya. Alhasil, dalam sebulan aku dapat menamatkan 5-7 buku dengan tebal yang bervariasi, mulai dari yang tebalnya 100an halaman s/d 300an halaman. Menyenangkan, seperti mempunyai banyak teman dan guru.

Hal lain yang menyenangkan bagiku adalah berbagi cerita dan artikel via email. Bagiku inilah caraku bersilaturahmi dengan teman dan rekan bisnis. Tapi lain halnya dengan orang lain. Ada yang merasa terganggu dengan kehadiran emailku di inboxnya. Padahal, baru kali itu aku memberanikan diri mengiriminya email, karena pikirku isi email itu sangat berguna baginya. Tapi apa yang kudapat ? Sebuah teguran yang membuatku tersentak kaget. Karena dia adalah orang yang aku hormati. Padahal niatku baik, yah begitulah….apa yang kita anggap baik belum tentu dianggap baik oleh orang lain. Di kesempatan lain, ada teman yang bernada sinis atas emailku. Teman yang lain menyukai emailku. Hah, inilah pelangi kehidupanku.

Apakah yang membuat seseorang bahagia dengan hidupnya ? Mungkin tercapainya target-target hidup yang telah dibuatnya, seperti : berpendidikan, berpenghasilan, berlimpah materi, berkeluarga, dsb. Lalu bagaimana jika seseorang stuck, berhenti pada satu titik bukan atas kemauannya sendiri melainkan karena keadaan. Apakah dia akan terperangkap dalam ketidakbahagiaan ?

Jangan sobat, jangan biarkan dirimu larung dalam ketidakbahagiaan.

Engkau mungkin tak dapat melanjutkan pendidikan. Engkau mungkin sudah sarjana tapi belum juga berpenghasilan. Engkau mungkin sudah mencoba berbagai jenis usaha, tapi keadaan ekonomi-mu tetap saja pas-pasan. Engkau mungkin belum berkeluarga, atau sudah berkeluarga tapi belum dikaruniai keturunan. Jangan bersedih, teman !

Kadangkala kita merindukan kebahagiaan dengan mencarinya ke tempat yang jauh, padahal kebahagiaan itu ada di dekat kita. Tempat untuk berbahagia itu di sini_ya, tepat di tempatmu berada sobat. Waktu untuk berbahagia itu kini, ya sekarang ini. Cara untuk berbahagia ialah dengan membuat orang lain berbahagia. Jika kau ingin menggandakan kegembiraanmu, maka bagilah kebahagiaan itu. Dan tak ada seorang pemberi yang tak berbahagia.

“Karena jalan terpendek dan temudah menuju Allah SWT, yaitu : melayani sesama, tidak mengganggu orang lain dan membuat mereka bahagia” (Abu Said)

Karena hidup hanya sekali, maka aku ingin memberi arti pada hidupku.

“Sesungguhnya umur adalah himpunan hari-hari. Setiap hari milik kita pergi, berarti pergilah sebagian diri kita” (Hasan Al Bashri)

* Sebuah catatan menjelang Sahur, 07 Ramadhan 1429 H ( Sabtu, 06 Sept 2008), pukul : 02.50 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s