Visi Kepahlawanan

Standar
by : UDO YAMIN EFENDI MAJDI
 
Diperuntukkan kepada siapa saja yang memiliki komitmen untuk membangun peradaban manusia :
 
Terlalu banyak paradok di negeri ini. Satu sisi sumber daya alam kita kaya raya, namun di sisi lain sumber daya manusianya banyak yang hidup dalam kemiskinan, kebodohan, dan terjerat dalam lingkaran setan patologi sosial. Satu sisi masyarakat 100% beragama, namun di sisi lain dalam kehidupan tak ubahnya ateis. Ah, terlalu banyak paradok, apa yang terjadi dengan Indonesia — tak ubahnya Garuda patah sayap.
 
Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, tentu melihat semua itu, tidak cukup hanya dengan mengeluh, menyalahkan, atau apapun respon reaktif lainnya, namun harus proaktif dan ada hal yang bisa kita lakukan. Ternyata, kesedihan ini, terwakili dengan tulisan Anis Matta, berjudul “Mencari Pahlawan Indonesia”. Iya, kita memang butuh pahlawan, untuk menyelesaikan masalah besar, komplek, dan akumulatif yang di derita bumi pertiwi.

Siapakah pahlawan itu? “Pahlawan”, kata Anis Matta dalam bukunya itu, “bukanlah orang suci yang turun dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis”.

Itulah makna pahlawan. Bahwa pahlawan hanyalah “manusia biasa”, seperti saya, Anda, dan sahabat semua, alias kita. Ya, kita adalah manusia biasa. Hanya saja, mungkin yang membedakan satu sama lainnya diantara kita adalah pekerjaan itu, ada yang melakukan pekerjaan besar, dan ada yang melakukan pekerjaan kecil.

Bagi saya, salah satu pekerjaan besar itu adalah membina keluarga dan mendidik anak. Nikah, bukan sekedar mengumpulkan dua orang, dua keluarga, dua keturunan, atau bisa jadi dua suku, tapi nikah adalah awal mula sekaligus komitmen untuk membangun peradaban manusia. Sebab, manakala setiap orang membangun keluarga dan mendidik anak-anaknya menjadi manusia baik, maka pada hakikatnya ia sedang membangun masyarakat, bangsa, dan peradaban.

Hanya saja, selama ini, terkadang yang terjadi sebaliknya, justru pernikahan itu mengisolir seseorang untuk melakukan perubahan sosial, mengembangkan sikap egois dengan mengatasnamakan ingin mengutamakan isteri dan anak, dan akhirnya, seharusnya keluarga tadi berfungsi membangun peradaban manusia, malahan menghancurkan peradaban manusia, sebab tidak tahan dengan kerasnya dunia. Sehingga tidak sedikit yang tadinya orang baik, menjadi tidak baik; tadinya tidak berani memakan barang haram, menjadi orang menghalalkan segala cara untuk menafkahi isteri dan membelikan kebutuhan anak-anaknya. Ia termakan dengan pernyataan yang menyesatkan, “Cari yang haram aja susah, apalagi yang halal!” Mengapa hal itu terjadi? Sebab, orang itu tidak memiliki visi, baik itu visi peradaban, visi keluarga, visi pribadi, visi kepahlawan, mau pun visi lainnya..

Visi inilah yang akan menggerakan kita untuk meneliti realitas kita saat ini sekaligus memikirkan proses yang menjembatani antara visi dan realitas.

Jadi, Jauh beda antara merasa jadi pahlawan atau sok pahlawan, dengan orang yang memiliki visi kepahlawanan. Sekali kali visi kepahlawanan itu tetap menyadarkan kita bahwa kita hanya “orang biasa”.

Saya teringat Kata Pengantar sebuah buku, judulnya “Kaifa Takuna Aban Najihan” (Bagaimana Menjadi Ayah Sukses). Dalam buku itu, Abdullah Muhammad Abdul Mu’thy, menceritakan bahwa pada suatu hari biasa, lahirlah seorang bayi dengan cara biasa. Oleh bapaknya, bayi itu diberi nama “Putra Biasa”. Sejak kecil hingga dewasa, Putra Biasa , tumbuh dan berkembang sebagaimana kebiasaan banyak orang. Sekolah di SD Biasa, SMP Biasa, SMP Biasa, dan Perguruan Tinggi Biasa. Nilainya pun biasa-biasa saja.

Seperti biasa, setiap tamat kuliah, ia pun bekerja. Lalu ia menjadi pekerja biasa. Maka hari-harinya pun biasa, sampai bertemu dengan seorang perempuan bernama Putri Biasa. Akhirnya, seperti biasa, kalau coeok dan cewek jatuh nikah, ya langsung menikah. Menikahnya pun biasa-biasa saja. Lagi-lagi, seperti biasa, setelah beberapa bulan, Putri Biasa hamil. Sembilan bulan kemudian, lahirlah anak pertama mereka dengan cara biasa juga. Anak mereka tumbuh biasa. Lahir anak kedua, ketiga, keempat, kelima, dan keenam dengan cara biasa. Dan semuanya mereka didik cara biasa. Singkat cerita, Putra Biasa meninggal dunia. Maka di pusara kubur itu tertulis: “Di sini bersemanyam orang biasa”.

Nah, apakah kita ingin menjadi orang seperti Putra Biasa itu? Tidak ada hal yang luar biasa dikenang oleh anak isteri, apalagi masyarakat. Kematian kita juga direspon secara biasa, tanpa ada rasa kehilangan,apalagi kesedihan. Ah, itunya, semuanya biasa-biasa saja.

Atau… justru kita bercita-cita menjadi orang luar biasa?! Orang yang dipuji oleh Allah, rasul, dan orang yang beriman? Orang yang dikagumi oleh anak-anak kita. Orang yang dikenang sebagai pahlawan, baik oleh isteri, adik-kakak, ibu-ayah, teman, masyarakat, bangsa, dan seterusnya.

Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing.

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s