(RESENSI) The Man Who Forgot How to Read

Standar

Judul Buku          : The Man Who Forgot How to Read

Penulis                : Howard Engel

Penerbit              : PT. Elex Media Komputindo

Cetakan              : I tahun 2009

Tebal                   : 153 halaman

Harga                  : Rp 29.800

Buku true story ini merupakan autobiografi Howard Engel sendiri. Seorang penulis cerita detektif, itulah sebutan yang disukainya ketimbang memperkenalkan diri dengan sebutan Novelis. Tokoh detektif ciptaannya diberi nama Benny Cooperman, sedikit terinspirasi Sherlock Holmes-nya Sir Arthur Conan Doyle. (Hey, aku juga suka Sherlock Holmes loh ?! hehe….sekedar info gak penting) Namun, Howard mengatakan bahwa Benny adalah tokoh detektif yang beda dari tokoh detektif yang ada saat itu. Benny yang pemalu, tak suka kekerasan, pusing kala melihat darah di TKP, dan memecahkan masalah berdasarkan data-data yang diperoleh dari perpustakaan. (Hmm…Benny kok mirip aku yah ? Loh..loh, aku kan bukan detektif.  Tapi emang aku mirip kamu loh, Ben ? Idih….sok akrab deh, hehe). Setidaknya, Benny Cooperman telah hidup di lebih dari selusin novel karya Howard Engel, beberapa cerpen, siaran radio dan dua film.

Sayangnya, stroke telah merenggut kemampuan membacanya. Howard menjadi lupa bagaimana cara membaca. Dia mengaku bahwa sebelum menulis, dirinya adalah seorang pembaca. Hmm, dapat dibayangkan bagaimana menderitanya dia ? Karena modal untuk menulis bagi seorang Penulis adalah membaca, yup….membaca apa saja.

Howard terlahir pada tanggal 02 April 1931 di Toronto, Ontario, Kanada. Terlahir dengan tangan kiri yang tidak tuntas pertumbuhannya. Dia menggambarkannya seperti suatu cakar dengan jari – jari seperti bola kecil.

Pertama kali menulis untuk sandiwara boneka yang dipentaskannya bersama adik lelakinya (David) dan teman-temannya. Howard membuat boneka dan panggung pertunjukkannya sendiri. Dan naskah ceritanya tentu saja. Karena boneka-boneka itu membutuhkan kata-kata di atas panggung, bukan ? Di sini lah dia mulai kecanduan buku, kecanduan kata-kata yang dicetak. (Ugh, aku juga sudah mulai kecanduan kata-kata nih, Howard)

Buku dan buku, berbagai judul buku yang pernah dibacanya, dia sebutkan sebagian.

“Di mana pun aku menetap,di benua apa pun, semua ruang horizontal sudah menyanggah tumpukan buku”  (Oalah…Howard, kamar tidurku pun sudah seperti perpustakaan plus galeri seni. Kita sama-sama suka buku yah ? Aku termasuk Bibliodreamer. Bagaimana dengan kamu ?)

Menjadi tukang catut atas penjualan tiket pertunjukkan drama di New York City, demi memperpanjang keberadaannya di Manhattan untuk  : menonton drama, mengunjungi galeri dan museum. Tidur di jalanan. (Wuih, aku juga suka jalan-jalan ke museum….walaupun teman-teman mentertawakanku “ngapain ke museum ?” Andai kata aku cowok, aku rela hidup ngemper sesaat kayak Howard, untuk melihat kehidupan lain di luar kehidupan asli milikku) Dia jalani selama sebulan agar memiliki kisah untuk diceritakan saat kembali ke Toronto.

Cara tersebut mengantarkannya menjadi pekerja di dunia siaran radio – Canadian Broadcasting Corporation (CBC) di Toronto. Dia bermetamorfosis dari meneliti ke menulis dan dari menulis ke memproduksi acara radio. Menjadi koresponden luar negeri untuk CBC, dia telah berpindah-pindah dari : London, Paris, Siprus, Jerman Barat dan Spanyol. Di London, menikah dengan Marian Passmore selama 16 tahun dan dikaruniai dua orang anak kembar. Marian pun menjadi novelis. Begitu pula istri keduanya kelak, Janet Hamilton.

Inilah buku yang menceritakan bagaimana seorang penulis terlahir, bertumbuh dan menemukan jalan kembali untuk bisa membaca dan menulis (lagi).

@@@@@

 

Dari kisah Howard Engel dapat kusimpulkan bahwa : KETEKUNAN + KESUNGGUHAN + KOMITMEN en sedikit EGOIS, mengantarkannya menjadi Penulis dengan karya hampir satu buku per tahun selama dua dasawarsa. Kenapa ku bilang sedikit EGOIS ? Dia membuat komitmen untuk mengurangi waktu bersama teman, pergi ke bioskop dan bermain, serta memikirkan pergi ke luar negeri. Nampaknya, aku sendiri sedang menuju ke track seperti itu.

Tentang jalan-jalan, baik untuk destinasi domestik maupun luar negeri….sepertinya aku belum menetapkan suatu rencana apa pun. Aku sedang konsen untuk menghasilkan karya dulu dan memulai industri kreatif milikku sendiri. Kalau ada hasil, bolehlah merancang perjalanan wisata kemudian.

Yang penting IKRAR dulu plus USAHA, lalu biarkan energi itu dikelola semesta. Untuk kemudian dikembalikan padaku dalam REALITA…..

Semoga Allah Swt mengabulkan, amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s