Apakah uang saya berbeda?

Standar

Oleh : Isa Alamsyah

Seorang anak berbaju kumuh, dengan rambut acak-acakan diam di tengah kerumunan berdiri lama, menunggu pesanan yang tak kunjung datang.
Satu per satu orang telah mendapat pesanannya tetapi tidak untuk anak ini, ia tetap menunggu sekalipun orang lain yang baru datang sudah mendapat bagian. Sesekali ia melihat tangannya yang menggenggam erat uang kertas yang sudah kumal dan recehan logam.
Setiap kali ia bertanya kapan pesanannya tiba, pelayan mengatakan harus melayani pesanan lain dulu.
Tampaknya ia sadar aku memperhatikannya, sehingga ia berani mendekat dan bertanya :
“Pak, apa uang saya berbeda dengan yang lain?”
Pertanyaan yang aneh. Apa maksudnya?
Ternyata anak ini sudah sejak lama lebih menunggu pesanannya, bahkan sebelum aku tiba dan mendapatkan pesanan ku.
Anak ini hanya memesan satu potong ayam dan kentang goreng yang dijanjikan untuk adiknya yang sedang sakit. Butuh waktu seminggu baginya untuk mengumpulkan uang untuk bisa membeli makanan ‘semewah’ itu. Sepotong ayam goreng dan kentang fries.
Aku datang ke pelayan dan menanyakan pesanan anak ini yang sejak tadi tidak pernah muncul.
Ajaib, hanya dalam 1 menit pesanannya pun tiba, ia dengan bangga membayar pesanannya dengan uangnya dan segera bergegas pulang membayangkan senyum adiknya yang akan menyambutnya gembira.

Aku bahkan belum sempat menjawab pertanyaannya?
”Apakah uang saya berbeda?”
Kalau aku sempat menjawab mungkin aku akan mengatakan
“Tidak nak, uang kamu tidak berbeda, hanya saja ada orang yang tidak punya hati dan membeda-bedakan orang hanya karena tampilan fisiknya!”
Tapi mungkin jawaban itu bisa menyakiti hatinya juga, jadi untung saja aku tak menjawabnya.

Sekalipun uangnya uang yang sama, karena ia miskin, ia diperlakukan semena-mena!
Sekalipun pertanyaannya pertanyaan yang sama, ia dijawab seenaknya?
Karena miskin ia dilihat sebelah mata!
Pernahkah Anda menyaksikan kenyataan demikian?

Sebenarnya ini bukan sekedar kisah kepedulian kita pada si miskin,
lebih dari itu ini adalah pelajaran tentang penghargaan kita pada esensi bukan pada simbol Penghargaan kita pada inti bukan pada fisik.

Kadang-kadang kita menganggap rendah atau menyepelekan orang bahkan anak kita sendiri hanya karena mereka terlihat muda dan kecil.
Kadang kadang kita menganggap remeh ide atau jika muncul dari anak kecil atau anak-anak kita, padahal yang kita harus lihat adalah isi idenya bukan berapa umurnya.

Kadang-kadang kita menyepelekan masukan dari pegawai karena ia pendidikannya lebih rendah atau gajinya lebih rendah, padahal yang harus kita lihat adalah isi idenya.

Sudah saatnya kita lebih melihat visi daripada fisik!
Bagaimana dengan Anda?

@@@@@

Karena miskin ia dilihat sebelah mata!
Pernahkah Anda menyaksikan kenyataan demikian?

Hahahaaa….kalau saya bukan saja menyaksikan, tapi pernah mengalaminya ! Bagaimana saya diremehkan : karena saya anak baru (pindahan) di sekolah, ketika saya pertama kali bekerja, ketika saya menjadi orang miskin,  bahkan sampai saya sudah mempunyai uang cukup untuk berbelanja. Bagaimana seorang penjaga toko bersikap jutek pada saya, ketika saya menanyakan harga barang dagangannya. Seolah saya ini tak sanggup membelinya. Namun, sikapnya langsung seperti penjilat begitu saya membeli beberapa barang dagangannya. Dia sebut aku dengan panggilan “Say……”. Ciiih !!!

Begitulah perilaku orang yang melihat orang lain hanya dari tampilan luarnya saja. Semoga Allah Swt mengampuni kita semua.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s