(CERPEN) Istriku Gila Buku

Standar

Cerpen karya Nurfita Kusuma Dewi ini, benar benar menggambarkan seorang Penggila Buku. Seperti Aku ini. Rak Bukuku yang terdiri dari 4 susun – penuh buku, menghadap tempat tidurku. Letaknya memang berhadap-hadapan langsung dengan tempat tidur di kamarku yang sempit. Saat mau tidur ataupun bangun dari tidur, selalu wajah buku-buku itu yang kulihat pertama kali dan terakhir kali dalam hari-hariku. Bepergian pun aku selalu membawa buku di dalam tas, ke kantor juga. Membacanya di angkot, di bus, saat menunggu. Bener bener aku banget deh (sifat gila buku-nya, aja loh) si tokoh Mayang yang ada di dalam cerpen ini. Tapi, aku rasa…..aku takkan menduakan kekasih hatiku jika dalam suasana romantis saat candle light dinner misalnya, hehe…..

Selamat membaca.

@@@@@

 

Aku sangat mencintai istriku, Mayang. Apalagi sejak ia memutuskan untuk
menetap di Balikpapan, aku makin sayang dan mencintainya. Sebetulnya, hal
ini tidak sejalan dengan apa yang telah kami sepakati di awal pernikahan
kami. Sejak khitbah, kami sudah sama-sama sepakat dan *ridho *untuk
menjalani LDL. *Long Distance Love. *Balikpapan-Jogja.

Kami berdua memang bekerja pada satu instansi pemerintah yang sama.
Peraturan dari kepegawaian memberi kesempatan bagi seorang istri untuk
pindah kantor mengikuti kota penempatan definitif suami. Aku menyetujui
kepindahannya ke Balikpapan bukan karena egoku semata. Alasannya lebih
karena aku sayang Mayang dan perasaan tidak tega pada Mayang. Aku tidak tega
mendengarnya menangis setiap malam di telepon sejak hari pertama kami
menjalani LDL. Kangen, begitu kata Mayang ketika kami bermesej atau
bertelepon.

Sejak Mayang tinggal di Balikpapan itulah aku semakin mencintainya. Ini
adalah kali pertama bagi Mayang hidup menetap di luar Jawa dan jauh dari
kedua orang tuanya. Rasa tanggung jawabku sebagai lelaki menjadi sangat
besar. Aku selalu ingin berada didekatnya. Memberikan perlindungan seorang
lelaki kepada perempuan yang dicintainya. Bagaimana pun, keputusan Mayang
untuk pindah ke Borneo adalah karena ingin berada disisiku.

Aku selalu berusaha untuk bisa memenuhi keinginannya. Semampuku. Selagi aku
memang bisa memenuhinya. Beruntung, Mayang bukan tipe wanita yang suka
dengan hal-hal berbau *glamour.* Ia tidak suka mengoleksi perhiasan atau pun
baju-baju seperti kebanyakan wanita. Untuk urusan mebel di rumah pun, ia
tidak begitu ambil pusing dengan *trend *yang ada. Sebatas benda itu memang
dibutuhkan dan bermanfaat, maka ia akan membelinya. Mayang juga tipe wanita
yang tidak bergantung pada suami ketika ia memiliki keperluan untuk pergi ke
luar rumah. Kebisaannya naik motor sendiri dan menyetir mobil sangat
membantuku, sebagai suaminya, sehingga aku tidak perlu menyediakan waktu
luang untuk mengantarnya ke tempat-tempat yang ingin ia tuju.

Tapi ada dua kebiasaan Mayang yang terkadang cukup mengusikku. Sifat manja
dan gila buku yang dimilikinya. Dibesarkan dalam sebuah keluarga yang penuh
cinta dan kasih sayang membuat Mayang tumbuh sebagai sosok gadis yang manja.
Ada kalanya ia mampu mandiri memang, tapi Mayang sangat manja dengan cinta
dan perhatian. Terlebih lagi ketika ia hidup jauh dari orang tuanya, kepada
siapa lagi ia akan bermanja-manja kecuali kepada suaminya. Kepada diriku
tentunya. Ketika manja itu datang di saat yang tepat, tentu saja tidak akan
menjadi masalah. Tapi ketika sifat manja itu datang ketika aku sudah terlalu
letih bekerja seharian di kantor atau saat aku punya banyak pikiran dan
sedang tidak ingin diganggu, sifat manjanya ini sering membuat emosiku
tersulut.

Kebiasaan Mayang lainnya yang membuatku tidak suka adalah gila buku. Secara
pribadi, aku suka buku. Aku suka membaca walau tidak semua buku aku baca.
Dan sikapku terhadap buku ini berbeda dengan Mayang. Ia penggila buku.
Ketika berjalan-jalan di pusat perbelanjaan di Balikpapan pun, bukan
*department
store *yang menjual baju, tas, kosmetik, parfum, dan barang-barang yang
disukai wanita pada umumnya, yang membuat Mayang betah tinggal berjam-jam.
Tapi Mayang justru betah berlama-lama di sebuah toko dengan rak-rak yang
penuh buku.

“Aku beli buku ini ya mas..” katanya suatu sore sambil menunjukkan tas
plastik yang disediakan bagi pengunjung toko buku tersebut untuk memudahkan
membawa ke meja kasir buku-buku yang hendak dibeli.

“Bukunya sebanyak itu mau diapain, Dek?” tanyaku sambil menatap wajahnya.

“Ya dibacalah, masak disemur.. Mas ini nanyanya kok aneh..” jawabnya sewot.

“Kemaren bukannya Adek udah beli banyak buku?” tanyaku lagi, dengan
mengalihkan pandangan sembari melihat deretan buku yang ada di depanku.

“Beda donk mas.. Yang kemarin kan novel-novel diskonan.. Yang ini kan buku
“Retorika Modern”, “Menulis dari Dalam”-nya Kompas, “Kumpulan Surat Cinta
Bung Tomo”, “Antologi Puisi”, edisi terbaru buku PPN-nya pak Untung,
“Kisah-kisah Sufi”..” jawabnya sambil terus menyebutkan judul buku-buku yang
ada di dalam tas plastik itu.

“Kalo bukunya memang Adek baca, ya dibeli aja.. Tapi gak usah
banyak-banyak.. Prioritaskan mana yang mau dibeli dulu, jangan sampai sudah
beli banyak tapi buku-buku itu nggak Adek sentuh..” jawabku lagi.

“Hukaysss.. Siap Bos!” katanya dengan nada girang.

Aku tahu, tidak satu pun buku-buku itu yang ia kembalikan ke rak. Semua
buku-buku yang telah dipilihnya pasti akan dibelinya. Sebenarnya aku ingin
mengingatkannya tentang tumpukan buku-buku di rumah yang belum ia baca.
Bahkan lebih tepatnya, belum ia sentuh. Buku-buku itu masih tertumpuk rapi
di sudut kamar tidur, lengkap dengan bungkus plastik, *bar code, *dan label
harganya. Tapi mengingatkannya tentang tumpukan buku-buku yang belum ia baca
saat ia tengah *sakau *dengan rak-rak penuh buku itu, sama saja nyari ribut
di tempat umum.

Mayang selalu punya banyak alasan ketika ia ditegur tentang kegilaannya
terhadap buku. Pernah di suatu malam aku menanyakan nasib tumpukan buku-buku
yang belum sempat disentuhnya itu. Tumpukan buku-buku di sudut kamar tidur
itu, jujur saja, mengganggu pemandangan. Kamar berukuran 3×5 meter itu
tampil manis dengan cat berwarna biru muda dan beberapa aksesoris ruangan
yang senada. Mulai dari korden, kipas angin gantung, lampu meja, sprei,
sarung bantal dan guling, selimut, sisir, cermin, gantungan baju, rak,
bahkan sandal tidur berbentuk boneka milik Mayang pun dibeli senada dengan
warna ruangan. Tapi tumpukan buku-buku di sudut ruangan itu, bagiku cukup
mengganggu. Dan tampaknya memang hanya bagiku. Karena bagi Mayang, tumpukan
buku-buku itu menjadi daya tarik tersendiri baginya ketika ia berada di
kamar tidur.

“Buku-buku itu kenapa tidak kau sentuh, Dek..?” tanyaku di suatu malam.

“*So many books so little time*, Mas..” jawabnya singkat sembari mengoleskan
minyak zaitun ke wajahnya yang bersih.

“Frank Zappa.” kataku tidak kalah singkat.

“Hehehe.. Mas tau juga kalimat itu? Iya, aku meng-*quote *kata-kata Frank
Zappa.” kata Mayang sambil menatap diriku yang terpantul dari kaca rias di
depannya.

Aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur. Membebaskan pandangan ke arah
langit-langit kamar. Tidak ada cecak atau pun sarang laba-laba disana.
Bersih. Dan pikiranku menerawang jauh.

“Dulu, Adek pernah menyesal karena satu buku.” kata Mayang membuyarkan
lamunanku, melanjutkan pembicaraan kami malam itu. Kali ini ia sudah duduk
di sampingku. Dan tentu saja, sembari membawa buku. Seperti malam-malam
sebelumnya. Ia suka sekali membaca buku sebelum tidur.

“Hm?” kataku sambil mengalihkan pandanganku pada wajah cantiknya. Wajahnya
yang diolesi minyak zaitun itu membuatnya kelihatan bercahaya. Mungkin
karena efek minyak saja, sehingga wajahnya tampak mengkilat.

“Suatu kali Adek pergi ke toko buku. Seperti biasanya, Adek jalan-jalan
berkeliling diantara rak-rak buku. Kemudian, di salah satu rak buku, Adek
ketemu buku yang menarik dan bagus. Buku itu Adek bolak-balik, dibuka-buka
sekilas isinya, sembari menimang-nimang keputusan untuk membeli atau tidak
buku itu. Tapi setelah dipikir-pikir, kapan-kapan sajalah beli bukunya.
Waktu itu, Adek lagi bokek. Hehehe.. Niatannya siy, nanti kalo udah punya
uang, Adek balik lagi ke toko itu untuk beli buku yang dulu gak jadi
dibeli..” terangnya panjang lebar, kali ini ia membalas tatapan mataku.
Secara langsung, tidak lagi melalui pantulan cermin rias.

“Lalu?” kataku manja menirukan gaya bicaranya sembari terus menatap wajahnya
yang berhias kaca mata minus.

“Pas adek dah punya uang dan balik ke toko buku itu lagi.. Eh, bukunya dah
nggak ada.” katanya lagi, kali ini pandangannya telah beralih pada sampul
buku yang tengah dipegangnya.

Ada cemburuku disana. Saat Mayang mengalihkan pandangan dariku dan menatap
buku itu, ada *senses *yang kunamakan sebagai *jealousy. *Aku sebenarnya
tidak tahu pasti apa definisi dari kata “cemburu”, tapi saat aku merasa
seseorang yang kucintai memberikan perhatiannya pada hal-hal di sekitar di
luar diriku, sehingga aku mengingingkan orang yang kucintai itu hanya
memperhatikan diriku saja, bahkan terkadang pula aku jadi membenci hal-hal
di luar diriku yang mampu mencuri perhatian dari orang yang kucinta, maka
aku menamakan rasa itu sebagai cemburu. Dan buku yang ada di tangan istriku
kala itulah yang membuatku merasakan cemburu. Rasa cemburu pada buku yang
seiring berjalannya waktu, nantinya akan semakin besar dan cukup mengganggu
hubunganku dengan Mayang.

“Sejak saat itu, aku jadi dendam. Dan aku berjanji pada diriku sendiri,
tidak akan pernah melewatkan satu buku pun yang kuanggap menarik. Beli.
Tidak boleh tidak. Karena belum tentu aku akan berjodoh lagi bertemu dengan
buku itu. Ya. Sejak itu aku berjanji pada diriku sendiri, mas. Huh!!!”
ucapnya kesal sambil memukul-mukul buku yang dipegangnya itu dengan tangan
kanannya yang mengepal.

Aku menikmati saja kelakuannya yang seperti itu. Di lain waktu, dia memang
suka bersikap lucu secara spontan. Setidaknya lucu menurutku. Wajahnya bisa
tampak sangat polos dengan ekspresi wajahnya yang seperti anak kecil. Dan
saat melihat wajahnya yang seperti anak kecil itu pula, rasa cemburuku yang
tadinya sempat hinggap, hilang begitu saja. Ah, Mayang. Gadis lugu yang
kucinta.

Mayang terus melanjutkan ceritanya tentang buku yang sempat membuatnya
merasa menyesal seumur hidup itu. Tapi rasa kantukku kian besar. Dan suara
Mayang di malam itu, kurasakan seperti nyanyian Nina Bobo’ yang mengantarku
ke alam tidur. Gelombang alfa tengah menggelayutiku. Sayup-sayup masih
kudengar suara Mayang bercerita. Kemudian gelap. Aku pun tertidur. Lelap.

***

Sebulan setelah kepindahan Mayang ke Balikpapan, aku mengajaknya makan malam
di sebuah resto yang ada di Balikpapan. Kala itu niatku memang ingin
menciptakan malam yang romantis bagi kami berdua. Walaupun kami menikah
sekitar empat bulan yang lalu tapi kami masih merasa layak-layak saja untuk
disebut sebagai *manten anyar.*

Mayang berdandan cantik malam itu. Ia mengenakan *blouse *berwarna dominan
ungu pastel dengan hiasan lipit pada bagian bawah baju dan lengan. Malam itu
ia tidak mengenakan rok berbahan *jeans *seperti yang biasa ia gunakan
hampir dalam semua *event. *Mungkin karena ia paham bahwa malam ini adalah
malam yang istimewa bagi kami berdua, ia pun berpenampilan lain. Dari ujung
kepala sampai ujung kaki. Kali ini ia mengenakan rok bahan kain berwarna
putih. Ia memakai kerudung berwarna *pink *kalem yang senada dengan
warna *blouse
*yang dikenakannya. Serasi. Ia mengenakan *high heels *berwarna ungu tua
dengan hiasan batu-batu di atasnya. Aku sendiri tidak tau kalau Mayang
memiliki koleksi seperti itu. Karena setauku, kemana-mana ia lebih suka
mengenakan sandal jepit atau sepatu *teplek. *Penampilannya malam itu tambah
*wah *dengan bros yang ia sematkan pada kerudungnya yang terjuntai lebar.
Bros dari rangkaian batu-batu dan swarovski berwarna dominan ungu muda itu
benar-benar menarik perhatian orang yang melihatnya. Cantik. Malam itu ia
membawa tas putih dengan hiasan tiga buah mawar putih berbahan kulit yang
juga berwarna putih. Lengkap. Dan penampilan Mayang malam itu benar-benar
lengkap, ketika sebelum berangkat aku melihatnya membawa sebuah buku yang
tebalnya sekitar lima senti meter yang ia masukkan dalam tas yang kini
tergantung pada pundak kanannya.

Malam itu benar-benar malam yang istimewa bagiku. Kami berdua naik taksi
yang kami pesan via telepon dan berangkat dari rumah kontrakan menuju resto
yang telah aku *booking *sebelumnya. Kami berdua memasuki resto itu sebagai
pasangan yang, setidaknya menurutku, tampak serasi. Aku merasa semua mata
orang-orang yang ada di resto itu tertuju pada kami. Entah karena rasa GR-ku
saja atau dalam kenyataannya mereka memang terus-terusan memandang kami. Ah,
tapi aku tak peduli. Ini adalah malamku dengan Mayang. Malamku bersama
istriku tercinta. Kulihat sekilas wajah Mayang ketika kami berjalan berdua
menuju meja yang memuat papan bertuliskan “*reserved”.* Mayang tampak
memasang tampang kalem, seolah kami memasuki *mall *yang sering kami
kunjungi saat makan malam sepulang dari kantor. Tidak ada tampang kikuk,
salah tingkah, tersanjung, atau apapun di wajah Mayang. Ia tampak datar.
Walau senyum kecil itu terlukis di wajahnya dan tangan kirinya menggamit
lenganku dengan mesra. Ah, indahnya.

Aku memundurkan kursi untuknya dan mempersilakannya duduk. Aku pun kini
telah pula duduk di depannya. Kami berdua terdiam. Entah mau berbicara apa.
Mungkin dalam diam pun sebenarnya kami telah berbicara. Tapi berbicara apa
yang bisa dipahami dalam diam? Saat dua orang yang saling mencinta itu
berbicara dalam bahasa cinta. Ck, bisa-bisa saja kalimat yang meluncur dari
orang yang sedang di mabuk asmara. Tapi entah mengapa, di saat seperti itu,
aku justru ingin pergi ke kamar kecil. Mungkin karena *nervous* atau
pikiranku yang kacau saja, aku jadi ingin buang air kecil. Setelah pamit
kepada kekasih hatiku, seolah ingin berkata “Mas akan segera kembali
untukmu, Sayang..”, aku pun segera meninggalkan meja kami menuju toilet.

Dan ketika aku kembali dari toilet dan berjalan menuju meja kami berdua,
betapa kagetnya diriku melihat apa yang kini ada di depan kedua mataku.
Entah kenapa, ada panas yang menjalari seluruh tubuhku. Ada sebuah
ketersinggungan besar yang menyulut egoku. Ego yang dimiliki oleh seorang
lelaki sepertiku. Aku benar-benar tidak habis pikir. Tega-teganya Mayang
berbuat demikian di malam istimewa bagi kami berdua. Ingin rasanya aku
melabraknya habis-habisan. Menginjak-injaknya, membakarnya, atau
menendangnya hingga jauh dari pandanganku malam itu. Mayang kulihat tampak
berasyik masyuk dengannya. Mayang meletakkan buku, yang tadi dimasukkannya
ke dalam tas, di atas meja *dinner *kami berdua. Ia membacanya dengan wajah
berseri-seri, ekspresi yang sama seperti saat-saat Mayang membaca buku. Tapi
entah kenapa, kali ini aku merasa ekspresi wajahnya yang berseri-seri itu
menyakitkan hatiku. Tidak bisakah kau menundanya untuk satu malam saja,
Yang? Setidaknya malam ini? Lakukanlah itu karena aku, Yang.. Karena aku
yang memintanya.. Tapi kalimat itu tidak pernah sampai pada Mayang, karena
hanya terucap di dalam hatiku sendiri untuk diriku sendiri.

Aku mencoba untuk menenangkan hati dan pikiranku sendiri. Aku tidak mungkin
merusak acara malam ini hanya karena sebuah buku. Sebuah alasan yang tidak
masuk akal. Terlalu sepele. Dan kekanak-kanakan. Tapi kenapa aku bisa
benar-benar secemburu ini pada benda yang bernama “buku” itu? Bukankah buku
adalah sumber ilmu? Bagus dong kalo ada yang sampai gila baca buku. Berarti
ia bukan tipe manusia yang menyia-nyiakan waktu. Tapi kalo membaca buku di
saat malam seromantis ini? Keterlaluankah bila aku cemburu? Atau aku memang
terlalu kekanak-kanakan? Tapi siapa sebenarnya yang kekanak-kanakan? Aku?
Atau Mayang?

Aku kembali duduk di meja itu dengan senyum yang kupaksakan terkembang. Dan
aku bertambah emosi ketika Mayang membalas senyumku dengan kondisi halaman
buku yang tetap terbuka. Tak bisakah kau memasukkan kembali buku itu ke
dalam tas, Yang? Atau dilempar saja ke dalam kolam? Atau dibakar dengan api
lilin yang ada di depan kita berdua saat ini?

“Baca buku apa, Dek?” tanyaku dengan suara yang berat.

“Oh.. Ini mas.. Omnibus.” jawabnya dengan senyum tanpa dosa.

APA??? Dia membaca novel Suparto Brata yang berbahasa jawa saat
*dinner *seperti
ini? Benar-benar keterlaluan! Aku berusaha mengontrol emosiku karena ketika
itu seorang *waiter *datang menawarkan menu kepada kami. Sabar.. Sabar..

Aku meminta Mayang saja yang memilih menunya dan aku akan makan makanan yang
sama seperti yang ia pesan. Saat Mayang memilih-milih menu dan sesekali
bertanya kepada *waiter *tentang menu yang ada di daftar menu, aku
menatapnya lebih lekat lagi. Berusaha memahami jalan pikiran wanita yang ada
di depanku saat ini. Aku mencintainya kan? Tentu saja, jawabku. Lalu apa
yang membuatku jengkel pada istriku ini?

“Mas, mau nambah pesan apa lagi?” tanya Mayang membuyarkan pikiranku.

“Enggak. Mas pesan itu aja.” jawabku singkat.

Selama beberapa detik, kami sama-sama larut dalam hening. Diam.

“Adek nggak berniat beli rak buku?” tanyaku. Entah pikiran apa yang sedang
menggelayutiku, tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar.

“Eh? Kenapa Mas? Bukannya kita udah punya rak buku di rumah?” ia balik
bertanya.

“Iya siy.. Tapi sepertinya kita butuh rak buku yang lebih besar. Nanti
rencananya, mau mas letakkan di antara ruang tamu dan ruang tengah. Sekalian
berfungsi sebagai hijab. Kalau korden seperti selama ini kan, bisa
tersingkap kalo anginnya lagi kenceng dan pintu depan lagi dibuka.” paparku.

“Ooo,, *sumonggo *Mas saja. Kalo Adek siy setuju-setuju aja.” jawabnya.

“Iya. Nanti buku-buku yang ada di kamar, kita pindahin semua ke rak buku
yang baru itu.” tambahku lagi.

“Ya kan nggak harus semua kan mas?” tanyanya.

Aku hanya mengerutkan kening. Aku mencoba memahami apa maksut pertanyaannya
yang terakhir saat seorang *waiter *datang membawakan makanan pembuka kami.
Sajian yang tampak lezat itu membuatku lupa dengan kalimat tanya Mayang yang
terakhir.

***

Selesai survey tempat untuk acara *gathering *pegawai Kanwil Kalimantan
Timur, aku langsung meminta ijin pulang duluan kepada Kepala Kantor. Siang
ini, rak buku yang kupesan tiga hari yang lalu akan diantar ke rumah. Aku
sudah titip pesan pada Mayang untuk menerima kiriman rak buku itu. Dan tadi
sewaktu makan siang, ada sebuah mesej masuk dari Mayang.

“Mas, rak bukunya sudah sampai. Niy aku lagi nata-nata buku.”

Hari sudah menginjak sore. Kulirik jam tanganku dan kuperkirakan aku sampai
rumah sebelum jam lima. Kupacu motorku menuju rumah kontrakan yang letaknya
cukup jauh dari tempat *gathering *tadi. Sesampainya di rumah, aku langsung
menuju ruang tengah. Mayang yang tadi menyambutku di pintu depan pun
mengikutiku dari belakang.

Tepat. Sesuai dengan rencana, ukuran almari itu pas dengan lebar sekat untuk
ruang tengah. Almari itu pun berdiri kokoh sesuai dengan letak yang
kukatakan pada tukang kayu kemarin. Tukang kayu itu benar-benar menjalankan
tugasnya dengan baik. Tapi, lemari itu hanya terisi separuh. Separuhnya lagi
masih kosong.

“Lho? Buku-buku yang lain mana Dek? Kok almarinya nggak keisi penuh?”
tanyaku pada Mayang.

“Masih di kamar. Yang kutata di almari besar ini memang buku-buku punya Mas
yang dibeli sejak membujang dulu. Daripada cuma ditaruh di kardus terus
digeletakin di deket dapur.” jawabnya ringan.

“Lalu buku-bukumu?” tanyaku lagi.

“Ya biar di kamar saja, seperti biasanya. Aku nggak bisa tidur kalo nggak
deket ma buku, Mas kan tahu sendiri kebiasaanku kek apa..” jawabnya lagi.

Aku benar-benar naik pitam kali ini. Niat awalku membeli rak buku itu memang
untuk memindahkan semua buku-buku yang ada di kamar tidur kami. Aku masuk ke
kamar dan berniat untuk memindahkan buku-buku yang ada disana.

“Lho Mas? Buku-buku yang ini biar disini saja.” kata Mayang ketika melihatku
menyusun buku-buku itu dengan tujuan untuk dipindahkan.

“Tidak akan ada buku-buku lagi di kamar kita, Dek.” kataku ketus.

“Kenapa? Apa alasannya?” sergah Mayang sembari mendekatiku.

“*It’s enough, *Dek. Mas pengen kita punya ruangan privasi. Ruangan kita
berdua. Cuma aku dan kamu.” kataku menegaskan.

“Lah.. Selama ini memang ada siapa? Jangankan ruangan, di rumah ini pun cuma
ada kita berdua mas. Tidak ada orang lain. Privasi apa lagi yang Mas
maksut?” tanyanya.

“Memang tidak ada orang lain di rumah ini selain kita berdua. Tapi ada dia!”
jawabku kembali ketus sambil menunjuk tumpukan buku-buku di sudut ruangan.

“Dia?” tanyanya dengan menunjukkan wajah bingung.

“Aku cemburu pada buku-buku itu Dek! Aku cemburu! Kau dengar?!” kataku
dengan suara yang semakin meninggi.

Mayang tampak kaget mendengar kalimatku. Cemburu? Terdengar konyol memang.
Tapi aku harus beralasan apalagi? Memang itulah yang aku rasakan. Setidaknya
aku berusaha untuk jujur pada diriku sendiri. Dan juga mencoba berkata jujur
tentang perasaanku pada Mayang. Mayang kini terdiam. Matanya mengarahkan
seribu tanya pada kedua bola mataku.

“Mulai saat ini, semua buku-buku ini akan tinggal di luar. Tidak akan ada
lagi buku di ruang tidur kita berdua.” kataku masih dengan nada emosi.

“Tapi mas..” suara Mayang hampir tidak terdengar.

“Cukup Dek. Cukup. Aku tidak meminta hal yang lebih padamu kali ini. Aku
hanya memintamu untuk berpisah dengan buku-bukumu ketika kita berada di
ruangan ini.” kataku memutus kata-katanya.

Wajah istriku itu kini tertunduk. Ada suara isakan tertahan disana. Dia
menangis. Sejujurnya ada sesal pada diriku ketika melihatnya menangis. Aku
tidak pernah tega mendengar Mayang menangis. Tapi kali ini egoku tampaknya
masih jauh lebih besar dibanding rasa empatiku padanya. Kami diam dalam
hening. Dan waktu pun serasa bergulir sangat lambat. Bahkan bagiku seperti
berhenti.

Mungkin aku sedikit keterlaluan kali ini. Mengeluarkan kata-kata dengan nada
yang meninggi. Kuakui aku lelah saat itu, lelah karena usai melakukan
perjalanan jauh dan lelah melihat sikapnya yang tidak kunjung mengerti apa
maksud dan inginku. Aku pun mulai mendekatkan diriku padanya. Kupegang kedua
pundaknya dan kucari bola mata yang selalu kurindukan itu.

“Lihat Mas, Dek. Dan jawab pertanyaan, Mas.” pintaku padanya kali ini.

Mayang tetap menundukkan pandangannya. Terisak.

“Lihat mata Mas, Dek.” pintaku lagi.

Kali ini ia mengangkat kepalanya dan menatapku dengan wajah berhiaskan air
mata.

“Jawab pertanyaan Mas, Dek.. Kau cinta Mas, kan?” tanyaku dengan suara
serak. Aku tidak menangis memang, tapi langit hatiku serupa gerimis.

Mayang menganggukkan kepalanya pelan.

“Kau benar-benar mencintai Mas kan?” tanyaku lagi dengan suara yang semakin
tercekat.

Mayang kembali menganggukkan kepala. Kali ini berkali-kali ia menganggukan
kepala, walau tangis itu belum juga surut.

“Kalau Adek disuruh memilih, siapa yang lebih Adek cintai? Mas atau
buku-buku itu?” kalimat tanyaku kali ini benar-benar mengandung sebuah
harap. Harapan agar ia memilihku yang ingin memenangi cintanya.

Kali ini Mayang tidak menjawab. Tidak pula mengangguk atau pun menggeleng.
Ia semakin sesak dalam tangisnya. Kepalanya semakin tertunduk. Tertunduk
lebih dalam. Mayang memang tidak menjawab tanyaku, tapi aku merasa sudah
memiliki jawaban atas tanyaku.

***

Malam kian larut. Tapi Mayang belum juga tertidur. Ia hanya menggonta-ganti
posisi tidurnya dari kanan ke kiri, ataupun kiri ke kanan. Ia tampak
gelisah. Aku tahu apa yang ia gelisahkan. Ini adalah malam pertama bagi
Mayang tidur tanpa ditemani tumpukan-tumpukan buku. Sudah menjadi kebiasaan
baginya, sejak bujang dulu, tidur disamping tumpukan buku-buku. “Rasanya
nyaman saja. Merasa lebih tenang, Mas.” jawab Mayang ketika dulu aku pernah
menanyakan alasan tentang kebiasaan anehnya itu.

Aku memilih untuk berpura-pura tidur. Mayang harus belajar untuk bisa
berpisah dengan buku-buku itu. Pun sebenarnya ia tidak sepenuhnya berpisah
dengan buku-buku itu. Buku-buku itu tidak kemana-mana, mereka semua hanya
berpindah ruangan saja. Bahkan tidak jauh. Ketika pintu kamar dibuka pun,
rak buku itu terlihat jelas dari tempat kami tidur. Tapi entah apa yang
membuat Mayang tetap tampak gelisah. Apa karena pintu kamar tertutup? Tapi
haruskah pintu kamar itu dibuka demi Mayang bisa menatap buku-buku itu
menjelang tidur? Haruskah begitu?

Disampingku, Mayang tampak semakin tidak tenang. Ia bangun dari tempat tidur
dan berjalan menuju pintu kamar.

“Mau kemana, Dek?” tanyaku spontan ketika menyadari bahwa ia sudah berdiri
di depan pintu kamar.

“Kamar kecil.” katanya pelan.

Ia memang tidak berbohong. Suara kran dan gemericik air kamar mandi
terdengar dari kamar tidur. Terdengar juga suara pintu kamar mandi ditutup.
Tapi Mayang tidak segera kembali ke kamar tidur. Aku menunggunya. Mungkin
sebentar lagi. Aku menungguhnya lagi. Sudah lima belas menit tapi ia tak
juga kembali ke kamar. Penasaran, aku pun melangkahkan kaki keluar kamar.

Disana, kulihat ia duduk sendiri. Kakinya ia silangkan dan kepalanya
tertunduk dalam di atas lututnya. Sesenggukan. Ah, Mayang.. Kenapa lagi
dengan bidadari kecilku ini? Kenapa hari ini ia bersikap seperti anak kecil?
Tapi emosiku sudah habis malam ini. Aku terlalu letih untuk berbicara dengan
suara tinggi seperti sore ini.

Aku melangkah mendekati bidadari kecilku yang kini tengah menangis sendiri.
Aku memeluknya dari belakang.

“Menangislah Yang, menangislah sepuasnya.” bisikku padanya.

Mayang membalikkan badannya dan menenggalamkan kepalanya dalam pelukku. Ia
terus menangis. Bahkan lebih lama dari tangisnya sore tadi.

“Cup.. cup.. Maafin Mas ya, Yang.. Mas tau Mas yang salah. Tidak seharusnya
Mas bersikap terlalu cemburu padamu. Maafkan Mas ya, Yang..” kataku
menenangkannya.

Mayang menjauhkan badannya dariku. Ia mengusap air matanya. Kemudian
menggeleng.

“Nggak, Mas nggak salah..” katanya lirih.

“Tak.. Mas yang salah. Mas yang salah karena Mas cemburu. Mas yang salah
karena Mas memindakan buku-bukumu. Mas yang salah karena membuatmu men..”
jari telunjuknya sudah mendarat di bibirku sebelum aku menyelesaikan
kalimatku.

“Mas nggak salah.. Mas benar.. Adek yang salah..” katanya sambil mengusap
kembali air matanya. Kemudian ia melanjutkan lagi kalimatnya,

“Mustinya Adek yang lebih peka. Peka dengan sikap Mas selama ini, peka
dengan sikap cemburu Mas terhadap buku-buku itu. Tapi Adek cuek bebek..”
katanya menyeringai.

“Terus?” kali ini aku bertanya mengikuti gaya bicaranya yang bernada manja.

“Ya.. Adek instropeksi diri saja. Selama ini ternyata Adek yang salah.
Harusnya Adek sadar kalo sekarang Adek sudah tidak hidup sendiri lagi. Adek
sudah hidup sama Mas. Hidup jadi istri Mas. Dan itu artinya Adek sudah tidak
bisa ego lagi. Harus bisa menyesuaikan diri dengan keinginan-keinginan Mas.
Keinginan-keinginan keluarga kecil kita.” katanya tampak dewasa.

“Begitu ya?” tanyaku lagi. Kali ini aku benar-benar tergoda untuk
menggodanya.

“Hu’um. Mulai sekarang Adek akan belajar untuk nggak sering-sering berkutat
dengan buku ketika ada di dekat Mas..” katanya sambil tersenyum malu.

“Bener? Nanti buku-buku di rak itu Adek pindah lagi ke kamar pas tengah
malam. Alasannya, jadi nggak bisa tidur karena jauh dari buku..” kataku
menggodanya lagi.

“Ah.. Mas ini upu ciy? Nggak segitunya kaleeeee.. Lagian bukunya kan
buanyiak, tadi aja Mas mindahin bukunya sampe ngos-ngosan kan?” katanya kali
ini berbalik menggodaku.

“Iya. Dan Adek cuma duduk di atas tempat tidur sambil nangis sesenggukan.
Boro-boro bantuin ngangkat kek, nyusun buku kek, nata buku di rak kek.. Ini
malah diem aja, sambil nangis nggak berhenti-henti pula.” jawabku sewot.

“Biarin aja. Kan Adek lagi sedih.” katanya dengan wajah manyun.

“Jadi malem ini nangis karena sedih juga?” tanyaku dengan sedikit sebal.

“Hu’um.. tapi bukan sedih karena buku.” jawabnya singkat.

“Lalu karena apa?” tanyaku penasaran.

“Adek nangis malem ini karena sedih dah bikin Mas marah tadi sore.. Adek
nyesel aja dah bikin Mas marah dan cemburu gara-gara buku. Adek bener-bener
nggak peka ya mas?” tanyanya dengan ekspresi polos.

“Iya. Adek emang gak peka sama Mas.” kataku sok sebal.

“Maafin Adek ya Mas. Insya Allah ke depan nggak kejadian lagi deh. Adek
janji bakal belajar lebih peka..” katanya merajuk.

“Iya.. Katanya *life is a never ending learning*?” kataku menggunakan
kalimat yang sering ia ucapkan.

“Hu’um.. Dan membaca buku itu juga salah satu wujud *life is a never ending
learning. *Tapi Mas tetep ngebolehin Adek baca dan beli banyak buku kan?”
tanyanya dengan penuh harap.

“Ya iya lah masak ya iya dong.. Asal, baca bukunya lihat-lihat waktu dan
tempat.. Terus kalo beli buku *mbok *ya dibikin prioritas *tho *Dek, biar
bukunya nggak numpuk-numpuk karena belum tersentuh.” jawabku panjang lebar.

“Mmm.. Ya.. Nanti Adek coba ya Mas. Hehehe..” jawabnya cengengesan.

“Ya.. Tapi bener ya, Adek mencoba untuk bisa berubah?” tanyaku lagi.

“Insya Allah.. Ingetin Adek ya Mas kalo Adek lupa..” pintanya.

“Iya.. Insya Allah ya Yang..” kataku dengan mesra.

Penasaran dengan pertanyaanku tadi sore yang belum dijawab olehnya, malam
ini kutanyakan lagi pertanyaanku.

“Jadi, Adek ini sebenarnya lebih cinta supu? Lebih cinta Mas apa buku-buku
itu?” tanyaku penasaran.

“Ya jelas cinta buku laaaaahhh.. Pertanyaan retoris kek gitu kok masih
ditanya.” katanya dengan wajah tenang tanpa ekspresi.

Aku cemberut. Sebal saja mendengar jawabannya yang kali ini benar-benar
tidak menunjukkan kepekaan terhadap jawaban yang diinginkan suami dari
istrinya. Melihat mulutku yang manyun dan wajahku yang ketekuk-tekuk, Mayang
segera melanjutkan kalimatnya.

“Mas ini lho.. Ya jelas cinta Mas lah.. Lebih cinta Mas seribu kali lipat
dibanding buku-buku itu..” kata Mayang sembari menatapku lembut.

“Bener?” tanyaku lagi.

“Iya Mas.. *Coz love is you..” *katanya lagi. Kalimatnya kali ini
benar-benar membuatku melambung.

“Eh mas, sekarang Adek gantian nanya ke Mas ya.. Boleh tak?” kata Mayang
kemudian.

“Mau nanya apa siy, Dek.. Mas jelas lebih cinta Adek lah daripada buku-buku
Mas..” kataku ke-GR-an.

“Bukan.. Adek nggak nanya itu. Kalo dibandingin ma buku-buku punya Mas mah,
Adek jelas menang jauuuuuhhh.. Buku-buku Mas aja ditelantarin di deket
dapur, tertutup rapi di dalam kardus.” jelasnya dengan ke-GR-an juga. Walau
kalimat Mayang ini, ada benarnya juga. Hehehe..

“Lalu Adek mau tanya upu? Hm?” tanyaku melanjutkan.

“Mmm.. Kalo Mas manggil Adek dengan “Yang” itu, sebenarnya Mas lagi manggil
Adek dengan panggilan “Sayang” ato “Mayang”?” tanyanya dengan wajah serius.

Ah, Mayang. Ada-ada saja.

2 responses »

    • nih cerpen emg ditulis oleh seorang pegawai pajak, makanya terselip buku itu di dlm tulisannya.

      en si penulis jadi mampir ke blog Anne deh, hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s