”Writer’s Block” (3): Lagi, Ihwal Kemalasan Menulis

Standar

Oleh : Hernowo Hasim

“Kemiskinan memacu saya untuk bekerja keras. Karena salah satu faktor penyebab kemiskinan adalah kemalasan. Ini menjadi dorongan bagi saya.” HOTMAN PARIS HUTAPEA, Kompas Minggu 31 Januari 2010

Setiap kali saya mengobrol dengan seseorang yang menyampaikan keluhan, hambatan, problem menulis, saya tentu menghindari sebisa mungkin untuk tidak membahas soal kemalasan menulis. Begitu pula di pelbagai pelatihan menulis. Membahas atau menunjukkan kemalasan menulis akan menyinggung perasaan. Apalagi jika itu disampaikan secara lisan. Berbeda sekali jika kemalasan menulis itu disampaikan secara tertulis sebagaimana yang saya lakukan dalam ”Writer’s Block (2)” pada edisi sebelum ini.

Penyampaian secara lisan membuat yang mendengarkannya kadang tidak sempat mencerna dengan nalarnya. Kemalasan menulis terkait dengan emosi. Biasanya, jika disampaikan secara lisan akan langsung dibajak oleh emosi. Pikiran atau nalar kadang kalah cepat oleh emosi dalam menangkap sesuatu yang bernada ”menyinggung”. Ini berbeda jika kemalasan menulis disampaikan secara tertulis. Orang yang membaca (ingin memahaminya) dapat mengulang-ulang membacanya dan—ini yang sangat penting—dapat merenungkannya secara lebih dalam.

Apa yang saya kutip di awal tulisan ini akan lain ceritanya jika saya sampaikan secara lisan. Ketika saya membaca komentar pengacara terkenal, Hotman Paris Hutapea, sewaktu ditanya wartawan Kompas—”Apa tidak risi mengendarai mobil mewah di tengah kemiskinan yang mencolok di jalanan?”—saya, pada awalnya, berkata dalam hati, ”Sombong benar jawaban orang ini.” Namun, begitu saya sempat merenungkannya, ada secuil kebenaran yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam benak saya. Tulisan di Kompas itu menyadarkan saya bahwa meskipun kadang ”rasa” sebuah tulisan itu ”pahit”, namun sesungguhnya ia tetap menyimpan sesuatu yang penting dan berharga.

Menurut saya, kemalasan adalah ”Embah” (Induk)-nya seluruh kegagalan di bidang apa pun. Apabila kita ingin sukses—tidak hanya di bidang menulis—kita harus memahami secara detail apa itu kemalasan. Dan, yang lebih penting, kita kemudian harus memiliki kemauan-sangat-kuat untuk mengusir kemalasan itu sejauh-jauhnya. Setiap manusia, dari orang-orang yang berada di jalanan hingga di gedung-gedung DPR, pasti pernah terlanda oleh kemalasan. Namun, orang-orang tersebut—siapa pun itu—menjadi luar biasa hebat sebagai seorang manusia apabila mampu mengalahkan kemalasan.

Setiap kali saya mengadakan pelatihan menulis dan kemudian tiba pada pembahasan ”writer’s block”, tidak pernah secara eksplisit saya menunjukkan kemalasan menulis sebagai salah satu faktor-utama penyebab kegagalan menulis. Saya pasti menggunakan bahasa yang lebih lunak. Saya tentu tidak ingin menyinggung perasaan. Saya ingin para peserta menulis menyadari sendiri dan sampai ke soal penting tersebut. Dan siapa yang dapat membantu seseorang yang sedang terlanda kemalasan menulis? Tidak ada seorang pun, kecuali diri sendirinya.

Kembali ke apa yang dikatakan oleh Hotman Paris Hutapea. Terlepas dari sosok Hotman Paris yang ”bling”, Hotman telah mengatakan sesuatu yang benar. Bahkan saya mengagumi pernyataannya yang mungkin saja kontroversial bahwa dia telah mengubah efek kemalasan—yang mengakibatkan munculnya kemiskinan—menjadi sebuah dorongan untuk bekerja keras. Ini jelas luar biasa. Dan layak kita contoh.

Bayangkanlah sekarang di dalam imajinasi Anda: Anda merasakan sekali beban berat menulis. Anda senantiasa frustrasi begitu Anda mengetikkan beberapa kalimat di layar komputer. Anda pun kadang tidak tahu apa yang akan Anda tulis. Anda berkali-kali disiksa dengan kegiatan menulis meskipun Anda ingin mencintainya. Deretkan hal-hal negatif lain, yang pernah Anda alami, yang menindih Anda terkait dengan menulis. Lantas, semua itu membuat Anda, akhirnya, terlanda kemalasan menulis.

Namun, ajaib, Anda tiiba-tiba teringat apa yang dikatakan oleh Hotman Paris Hutapea dan Anda segera berubah menjadi sosok Hotman yang bukan pengacara, tetapi seorang penulis yang sangat sukses dalam mengatasi problem-problem menulis. Dan Anda sadar benar bahwa yang membuat Anda menjadi penulis sukses adalah karena Anda—seperti Hotman—mengubah kemalasan menulis yang melanda Anda menjadi sebuah ”dorongan”—dorongan untuk mengalahkan segala macam rintangan yang Anda hadapi, termasuk kemalasan itu sendiri, ketika Anda menulis. Bayangkanlah![]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s