Writer’s Block (4) : Daftar Kebuntuan-Internal Menulis ?

Standar

Oleh : Hernowo Hasim

Di layar saya menunjukkan dua jenis kebuntuan yang dialami oleh seorang penulis. Saya kemudian memberikan titik tekan pada kebuntuan yang saya beri warna merah: kebuntuan internal. Kebuntuan-internal menulis ini dikarenakan oleh sesuatu yang kadang-kadang sangat tidak jelas dan sulit dirumuskan. Sekali lagi, saya menyorot besar-besar sebuah kata: NONTEKNIS. Artinya kebuntuan internal ini tidak bisa dipecahkan secara TEKNIS. Ia harus dipecahkan secara, katakanlah, mungkin PSIKOLOGIS.

Di bawah tulisan dengan huruf kapital, INTERNAL, saya mendata beberapa unsur penyebab munculnya kebuntuan-internal. Tentu, yang saya data ini belum seluruhnya. Saya hanya memberikan beberapa contoh. Saya, kadang, juga masih menduga-duga. Silakan, nanti Anda kembangkan sendiri. Tentu jika Anda setuju dengan apa yang saya coba paparkan di sini. Saya juga merasakan sekali bahwa ketika mendata kebuntuan-internal—apa yang menghambat seseorang menulis yang berasal dari dalam dirinya—ini memang sulit dideteksi apalagi dipecahkan dengan segera. Ini tidak sebagaimana kebuntuan-eksternal yang lebih eksplisit.

Daftardi layar itu menunjukkan deretan kata-kata berikut: Ada semacam BEBAN teramat dahsyat yang dipanggul oleh seorang penulis ketika dia menulis. Ada TEKANAN luar biasa yang harus ditahan ketika seseorang menulis. Ada juga ANCAMAN yang begitu menakutkan ketika seseorang menuliskan kalimat pertama atau kalimat terakhirnya. Lantas, ada yang merasakan bahwa menulis dikhususkan hanya untuk orang-orang yang memang punya BAKAT menulis. Lainnya, merasakan bahwa MOTIVASI-nya nol besar begitu berhadapan dengan pena dan kertas ataupun layar komputer. Yang aneh, ada juga yang sesungguhnya memang TAK TERTARIK menulis tetapi memaksa diri untuk terjun ke dunia tulis-menulis atau menerima tugas dari kantornya untuk menulis. Dan, akhirnya, ada orang-orang yang menulis dengan PERCAYA DIRI yang sangat rendah sehingga gampang sekali dihinggapi oleh rasa frustrasi, kesal, serta sebal (setiap kali menulis) dan keluhan serta pelbagai macam omelan pun terus mengalir dari dirinya.

Sekali lagi, saya berusaha keras untuk TIDAK menggunakan kata MALAS meskipun sesungguhnya bahasa yang saya tampilkan di atas ujung-ujungnya akan bermuara ke sana. Pernahkah Anda merasakan ada kebuntuan-internal tersebut ketika menulis? Beban, tekanan, ancaman, tak punya bakat, tak ada motivasi, tak tertarik, hilang kepercayaan diri adalah hambatan-hambatan menulis yang sesungguhnya nyata. Saya pun pernah mengalaminya dan membuat saya kemudian berhenti menulis dalam waktu yang sangat-sangat lama. Namun, ketika mengalami hambatan-hambatan semacam ini, saya kadang tidak mampu merasakannya. Saya hanya mengalami kebingungan.

Barulah setelah saya mendata dengan menuliskannya secara satu per satu, saya dapat “melihat” bahwa semuanya itu—mungkin masih bisa ditambah dengan hambatan lainnya—pernah bersarang di dalam diri saya ketika saya menulis. Persoalannya sekarang, bagaimana saya (atau Anda yang mungkin pernah mengalaminya) mengatasi beban, tekanan, ancaman dan yang lain-lainnya itu? Saya akan mencoba menunjukkan langkah-langkah yang saya tempuh dalam menghadapi kebuntuan-internal menulis ini di catatan saya yang akan datang. Salam dan selamat merasakannya terlebih dahulu.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s