Cerita Si Guru Pengembara

Standar

Sang guru sedang duduk santai di tepi pantai, sambil makan siomay campur capcay dan minum jus petay. Ketika tiba-tiba seorang pemuda datang dengan langkah gontai.

“Guruu….” teriak sang pemuda.

“Kisanak…” teriak sang guru.

Dan kejadian dramatis khas India pun terjadi. Mereka saling pandang untuk beberapa detik, hanya termangu tanpa kata. Hanya saja kedip genit mata kiri guru akhirnya menyadarkan sang
pemuda untuk segera bertanya sebelum terjadi hal-hal yang diinginkan.

“Guru, kenapa saya menemui guru ?” tanya sang pemuda asal.
“yeee…meneketimpring” jawab sang Guru sewot.

“Guru…aku telah hancur lebur bagai kapur, luluh lantak sampai botak, remuk redam bagai habis dihajar wadam….semua karena aku menuruti hawa nafsuku Guru…” kata sang pemuda.
“Aku selalu mencari kekayaan dan kekuasaan dengan segala cara, dan akhirnya kekayaan dan kekuasaan itu yang menjatuhkanku hingga hancur, guru…hingga aku tak punya apa2 lagi”
“Karena itu, bantu aku guru..” lanjutnya.

“Waduh, aku juga lagi ga punya duit kisanak” potong sang Guru ketika melihat gelagat sang pemuda yang sepertinya mau mencari utangan.

“Yeee…kalo itu sih gajah bunting juga tau!” tukas sang pemuda.
“Aku cuma ingin meminta bantuanmu Guru, ajari aku apa itu nafsu guru?”

“baiklah” jawab Guru

Sang Guru berdiri membelai jenggotnya, menata surbannya, membetulkan letak jubahnya,
membenarkan earphone mp3nya, dan memakai kembali celananya (lhooo?).

“Sekarang larilah kamu mengelilingi pantai ini sebanyak 20 kali” perintah guru.

Dengan mata terbelalak, perut mual, bibir pecah2 dan susah buang air besar (halaah!!… ). Karena saking kagetnya, sang pemuda nurut aja apa yang dikatakan gurunya.

Demi menghemat karakter, singkat cerita sang pemuda telah mengelilingi pantai sebanyak 20 kali.

“Guru…hah. ..hahh… hahh… aaaku….hh. .haauuuss. .sekalih. .” kata sang pemuda sambil terengah-engah setelah sukses melahap 20 lap pantai selatan tanpa pitstop (F1 kalii…).

“Baiklah…sekarang minumlah air laut itu” jawab sang guru.

Sang pemuda segera berlari meminum air laut karena saking hausnya.
“PWAAHHH…guru. .. air ini tidak melegakanku, tapi malah membuat aku semakin haus guru…” kata sang pemuda.

“Maka seperti itulah nafsu kisanak…” kata guru bijak.

“Nafsu adalah bagaikan meminum air laut, semakin kamu meminumnya semakin kamu
akan merasakan kehausan”
“Secara fitrah manusia diciptakan dalam keadaan ‘haus’ akan harta, kekuasaan dan semuanya…”
“Tapi ketika kita mengumbar semua nafsu itu, maka semua itu tak akan pernah memuaskanmu”
“Justru sebaliknya, nafsu akan membuatmu semakin haus…semakin haus…hingga akhirnya dia yang akan membunuhmu.. .seperti halnya ketika kau meminum air laut itu” lanjut sang Guru.

Sang pemuda mencoba mencerna kata2 guru dalam kehausan luar biasa. Dia akhirnya mengangguk mafhum.

“terima kasih Guru, sekarang saya telah mengerti” kata sang pemuda.

“Baiklah…sekarang kamu boleh minum, itu di seberang sana ada warung, belilah teh botol” jawab sang guru.

“Baik guru”
“Tapi ingat…”

“Apa guru?” tanya sang pemuda heran.

“Pesen dua ya, Guru juga mau..”

*GUBRAK!*

Sang pemuda sewot juga, udah jatuh miskin masih diperas pula disuruh bayarin teh botol gurunya. Tapi baru beberapa langkah sang pemuda berjalan sang guru memanggil lagi.

” Tunggu anak muda…”

Sang pemuda kaget, dia menoleh dan berharap sang Guru membatalkan pesenan teh botolnya karena kasian dengan dirinya.

“Ada apa Guru?” tanya sang pemuda.

“Jangan lupa pake es batu dan cemilannya ya…” jawab sang guru genit.

“Apa ga sekalian lobster bakar, tumis ubur2, cah rumput laut, ama cangkang penyu saus tiram mumpung di laut neehh??!!” tanya pemuda saking gondoknya

“ah, itu juga boleh deh” jawab sang Guru enteng.

Setelah pesanannya datang.
Setelah sengobrol dua ngobrol.
Setelah sang guru pura-pura sakit perut ketika bon tagihan makanannya datang.
Setelah dengan gondok sang pemuda membayar semua pesanan,
maka sang pemuda pun pamit untuk pulang.

Sang Guru pun berlalu sambil mendengarkan lagu-lagu Beatles yang mengalun pelan dari MP3 player yang selalu menemani perjalanannya menuju ke sebuah entah.

6 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s