Penting Mana, Isi atau Sampul ?

Standar

 “Don’t judge a book by its cover….” Familiar dunk dengan pepatah ini ?!

Semalam, Anne duduk di atas ranjang sambil menghadap ke rak penuh buku di kamar Anne. Merenung….. Terkadang, saat melihat sebuah buku untuk pertama kali…..yah faktor sampul buku yang menarik yang membuat penasaran ingin tau seperti apa yah isinya ? Meraihnya dalam genggaman, kemudian membaca garis besar dari isinya. Kalo bagus, yah dibeli dunk. Kalo gak bagus, ya diletakkan lagi. Urung beli.

Sampul yang bagus dan menarik, merupakan daya pikat sesaat. Beda dengan isi yang berbobot. Walau sampulnya tak menarik, namun jika isinya mencerahkan orang yang membacanya……ada rasa senang dan keinginan untuk memilikinya.

Kurasa, manusia pun demikian. Penampilan luar yang menarik, bisa menjadi daya pikat. Namun, jika dia tak memiliki “bobot” alias kualitas diri di luar keelokan fisik, apa yang dapat dijadikan penghubung dalam relationship dengannya ? Lain hal dengan orang yang berpenampilan biasa saja atau mungkin bisa dibilang ga cakep, jika dia memiliki kualitas diri (inner beauty)…..uhm, Anne yakin orang itu tetap akan tampil menarik (setidaknya di mata Anne, hehe). Aura positif yang terpancar dari inner beauty sanggup membuatnya tampak “berkilau”. Anne pernah dapet nasehat dari Bokap, “Jika engkau kiranya sebuah mutiara, maka jika engkau tercelup ke dalam lumpur sekali pun…..engkau tetaplah mutiara. Jika engkau sungguh memiliki kualitas, di mana pun engkau di tempatkan…..engkau tetaplah mutiara” . Yah, tak persis demikian kalimat yang disampaikan beliau, tapi intinya begitulah.

Sampul buku bukan tolok ukur untuk menilai sebuah buku.

Begitu pun penampilan fisik, bukan tolok ukur untuk menilai seseorang.

Fisik yang tak sempurna atau bahkan cacat, bukan berarti orang itu pantas tuk dijadikan orang buangan. Lihatlah Helen Keller, penderita 3 cacat : buta, bisu dan tuli. Ia dapat membuktikan eksistensi dirinya, meraih predikat magna cum laude dari Radcliffe College (cabang Universitas Harvard) hanya dalam tempo 4 tahun.

Kekurangan fisik bukanlah pilihan. Tak satu pun orang yang mau demikian. Namun, kekurangan seseorang merupakan suatu keadaan tuk kita bisa berbesar hati menerima mereka dalam kebersamaan. Ladang amal bersama untuk saling berbagi kasih.

“Hal terbaik dan terindah yang tidak dilihat atau disentuh oleh dunia adalah hal yang dirasakan di dalam hati.”

*Sebuah renungan malam menjelang tidur

23.02.2010 pukul : 23.23 wib

(geez….angka yang cantik, itulah tera jam handphone Anne saat mengakhiri catatan ini)

5 responses »

    • Embun tlah beringsut pergi
      Gelap pun menarik diri
      Berganti mentari pagi
      Menyambut barunya hari

      Selamat Pagi, Febri….

      Silakan nikmati teh hangatmu di beranda Anne,
      untuk banyak kata………

      cheers🙂

  1. Hehee… diakhiri dengan angka-angka cantik, 😀

    “Ya, don’t judge the book from it’s cover, menilai isi sangat penting🙂 .. ”

    Mampir, ikut baca-baca yaa..

    Trim’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s