PUPUS



Standar

Satu hal yang tak menyenangkan saat kau menjadi dewasa adalah KESENDIRIAN.

Bagiku . . . mulanya semua baik-baik saja. Bukankah dalam kesendirian, kita bebas menentukan kehendak. Melakukan hal yang kita suka, tanpa ada yang melarang. Mengembangkan diri tanpa batas. Mengejar impian…. Setidaknya, itulah yang kulakukan untuk mengisi kesendirianku.

KESENDIRIAN. Mungkin saat kau remaja, hal itu tak menjadi soal. Dan bukan sebuah persoalan, untuk dirimu dan untuk keluargamu. Namun, begitu semua teman sebayamu mulai menikah & mempunyai anak, di sinilah orang-orang di sekitarmu mulai “usil” dengan kesendirianmu. Oke, “usil” itu mungkin sebentuk perhatian dan sayang mereka padamu. Tapi, jika terus-terusan diberondong pertanyaan yang itu-itu saja, baik dari : teman, saudara, orang tua, Om, Tante, Nenek, Kakek bahkan saat kau wawancara kerja pun si pewawancara akan bertanya: “Seharusnya Anda sudah berkeluarga, kapan Anda akan menikah ? Ada rencana dalam waktu dekat ini ?”

Aaaaarrgh !!!

Satu hal yang pasti . . . dengan menjadi dewasa adalah bertambah tua.

Aku sadar dengan usiaku, aku juga sadar kebutuhanku. Aku juga ingin menikah, tapi mengapa semua mendesak. Membuatku sesak, yang terkadang menyisakan isak. 



Beberapa waktu lalu, kutemukan sosok pria yang sesuai impianku karakternya. Jujur, secara fisik dia tak menarik bagiku. Aku malah rada takut padanya, terkesan galak sih wajahnya. Tapi, kusuka caranya berinteraksi denganku, perhatiannya padaku. Perkenalan kami berawal dari pemikiran-pemikiranku yang tertuang dalam setiap tulisanku. Itu yang membuatnya ingin berkenalan denganku secara personal. Intinya, dia menyukai tulisanku. Hebat, dia sanggup mengenaliku hanya dari tulisanku. Padahal aku memakai nama samaran. Sejak itu, tiada hari yang terlewat tanpa diskusi. Dia senang tanya-jawab, dan aku suka menyusun kata yang dibarengi logika dalam berargumen dengannya. Dia pandai melontarkan pertanyaan yang mengasah nalar dan logikaku, otomatis kemampuan verbalku ikut terasah. Kehadirannya membuatku semangat melewati  jam-jam menjemukan di kantor. Kami berinteraksi hampir sepanjang jam kantor. Aku merasa takjub, ternyata aku menemukan pria dalam khayalanku. Dia sungguh ada dalam dunia nyata. Yah, tak sesempurna impian memang. Lagipula bukan pangeran tampan berkuda putih yang kuharapkan, kok. Hanya pria sederhana yang memiliki kedekatan emosionil denganku, seiman dan sehat jasmani serta rohani . . . itu saja. Sayang, sifat sensitifnya membuat kami renggang. Setidaknya 2x kumenyentuh hal yang berada dalam zona sensitifnya, ada emosi di sana. Aku tak pernah tau, apa yang membuatnya terkadang marah tiba-tiba. Setiap kutanya, tak beroleh jawab. Tak dapat kupahami dirinya. Sejak itu, tak ada lagi obrolan sehangat dulu. Aku pun menjauh. Tak ingin melukainya. Dan tak ingin kuterluka juga. Lelah berkalang maaf. 
  


Kurasa penggalan lirik lagu berikut cukup mewakiliku :

 

I WALK THIS ROAD ALONE

By : Michael Learns to Rock

  

Looking at a sleeping town

As the world goes round and round

Sitting here on my own

As a king that lost his throne

We were so in harmony

But now it is a different key

 

 

Oh…

I walk this road alone

Oh…

Will I find another home

 

 

 

Dijodohkan

Ya, suatu kali Ibu meneleponku dan menangis tersedu-sedu agar aku mau dijodohkan dengan anak temannya. Mas S, usianya lebih tua 5 tahun dariku. Aku tak tahan mendengar tangis Ibu—ku iyakan saja—dengan catatan aku tak menjanjikan keberhasilannya. Liat aja gimana nantinya. Aku diberi no Hp si Mas S. Kami diberi kebebasan untuk saling mengenal sendiri, tanpa harus ortu yang ngenalin.

Setelah beberapa hari kemudian, baru Mas S  kenalan denganku lewat SMS. Kutanggapi dengan baik. Dia bilang aku pandai melucu, setelah beberapa kali kami berbalas SMS. Dia pun cukup menyenangkan. Beberapa minggu kemudian barulah kami bikin janji ketemu di Mall, PERTEMUAN PERTAMA.

Aku was-was juga sih, kayak apa yah rupanya ? Ah, bagaimana pun pasti dia pria baik-baik, toh ibuku mengenal ibunya. Aku harus bersikap sopan seperti apa pun orangnya, begitu pikirku. Aku lebih dulu tiba. Menunggu seseorang yang belum pernah kau lihat sebelumnya, ditambah tema perjodohan . . . weks, ada beban mental yang menggelayuti.

Tiba-tiba Hp-ku berdering, telepon dari Mas S. Oh, ini pertama kali kumendengar suaranya. Kucoba hayati warna suaranya, sepertinya tak menggugah perasaanku. Dia menanyakan lokasiku berada. Tak lama kemudian ada seorang pria dengan model rambut ABCD (ABRI bukan cepak doank) menegurku, “Anne ?”


Aku sedang duduk di kursi yang disediakan di dalam Mall, sambil main game di Hp. Kudongakkan kepala. Oh Tuhan, semoga dia bukan Mas S. Semoga dia hanya orang yang bertanya arah. Loh, tapi dia tadi menyebut namaku ‘kan ? Brarti… Oh, tidak! Ingin menggeleng rasanya, ngaku bukan Anne. Aku tak suka pria berkepala plontos, entah kenapa . . . pokoknya gak suka. Masang muka tersenyum sambil bangkit dari duduk. Aku lupa, kami bersalaman gak ya ?

Langsung menuju resto, mau lunch. Duh, suasana kaku. Kucoba bersuara deh, banyak nanya ini-itu supaya suasana cair. Lumayan bisa tertawa bersama di menit berikutnya, sambil menikmati hidangan. Tiba-tiba Hp Mas S bergetar, dia ijin nerima telepon di luar. Lama, aku mulai bete. Dia pun kembali akhirnya, obrolan berlanjut. Gak lama Hp-nya bergetar lagi, kali ini tanpa meninggalkan meja. Gak enak kali ninggalin aku kayak tadi. Urusan pekerjaan sepertinya, lama juga teleponnya. Aku lebih dulu menyelesaikan makananku jadinya. Fiuh, tak menyenangkan bagiku.

Usai lunch, dia mengajakku ke Gramedia. Ada buku yang dicarinya. Yippie . . . aku suka ke toko buku. Begitu masuk, kami langsung berpencar. Aku tak tau dia mau cari buku apa. Kukira tadinya kami akan berjalan bersama di dalam toko buku itu, ternyata dia ke rak buku komputer. Ya sudah, aku gak mau ganggu, abis tampangnya lagi serius banget. Aku muter–muter aja keliling toko. Pas aku lagi di tempat buku humor, dia nyamperin.

“Bukunya gak ada, pulang yuk !” ajaknya.

Aku nurut aja. Ngikutin dia dari belakang, coz jalannya cepet banget. Katanya sih, supaya makanan yang dia beli untuk adiknya di resto tadi, gak keburu dingin. Ya ya, aku percaya. Aku gak tau dia bawa kendaraan apa. Coz dia berjalan ke pelataran parkir. Ouw, sebuah mobil sedan. Entah merk apa, aku tak begitu peduli dengan harta orang. Warna mobilnya saja aku tak ingat. Urusanku cuma diajak dia pulang.

Dia grogi, sampe 2x kami berputar di jalan yang sama setelah keluar dari Mall. Aku pun tak punya ide untuk ngobrol dengannya. Aku sendiri agak grogi, ini pengalaman pertamaku diantar pria pulang pake mobil. Dia tak sempat mampir dulu ke rumahku. Bagus deh, coz di rumah juga lagi gak ada siapa-siapa. Keluargaku lagi ke kampung. Gak enak cuma berduaan dalam rumah dengan pria yang bukan muhrim.

*Maafkan anakmu ini, Ibu . . . membuat harapanmu PUPUS.

*****

 

It’s Gonna Make Sense

By : Michael Learns to Rock

Life comes in many shapes
You think you know what you got
until it changes

And life will take you high and low
you gotta learn how to walk
and then which way to go

Every choice you make
when you’re lost
Every step you take
has it’s cause

[Chorus:]
After you clear your eyes
you’ll see the light
somewhere in the darkness
After the rain has gone
you’ll feel the sun comes
and though it seems your sorrow never ends
someday its gonna make sense

Tears you shed are all the same
when you laughed ’till you cried
or broken down in pain

All the hours you have spent in the past
worrying about
a thing that didn’t last

Everything you saw
played a part
in everything you are
in your heart

[Chorus:]
After you clear your eyes
you’ll see the light
somewhere in the darkness
After the rain has gone
you’ll feel the sun comes
and though it seems your sorrow never ends
someday your gonna find the answers

to all the things you’ve become(and all day down)
at your expense
Someday it’s gonna make sense

after the rain has gone
you feel the sun comes
and though it seems your sorrow never ends
someday it’s gonna make sense
after the rain has gone
you feel the sun comes
and though it seems your sorrow never ends
someday its gonna make sense

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s