Selayang Pandang

Standar

Sabtu pagi yang cerah. Terima kasih ya Allah, atas nikmat-Mu. Masih diberi hidup hingga hari ini. Masih diberi kesehatan, hingga dapat kurasakan lapang dada ini ketika menghirup oksigen. Terima kasih juga atas sepasang mata ini. Mata yang selalu menemukan “sesuatu”.

Mata inilah yang melihat, mengamati, dan menelisik. Dengan mata ini, aku beroleh ilmu. Membaca apa saja yang kusuka. Dengan mata ini, aku bisa menilai. Melihat benda ataupun orang. Dengan mata ini, aku bisa memberi input pada akalku. Berharga atau tidak berhargakah sesuatu itu untuk memenuhi ruang pikirku. Untuk kemudian diolah oleh hati, bernilai rasa atau tidakkah sesuatu itu. Walau kadang ada “kotoran” yang terlihat oleh mata, semoga hati sebagai pelabuhan terakhir dapat mengeliminir.

Pagi ini, tak seramai weekdays. Yah, banyak yang sudah libur kerja di hari Sabtu. Aku ? Uhm, aku masih bekerja di hari Sabtu, sobat. Ritme orang yang berlalu-lalang pun tak sebagaimana weekdays. Perjalananku menuju kantor membutuhkan dua kali berganti angkutan umum. Pertama, aku harus naik angkot (angkutan perkotaan). Kalau Sabtu begini, tak banyak penumpangnya—berkisar dua sampai tiga orang saja. Dan yang kedua, aku harus menyambung naik Metro Mini di Terminal.

Biasanya, baik di dalam angkot maupun Metro Mini, aku selalu menyempatkan diri membaca buku—satu buku selalu ada dalam tasku. Kali ini, aku hanya membaca selama di dalam angkot saja. Saat di Metro Mini, aku ingin menikmati perjalanan saja. Beruntungnya aku, tidak bekerja di pusat kota yang disesaki oleh angkuhnya bangunan-bangunan pencakar langit. Dimana rasa angkuh itu kadang menulari penghuninya. Sebuah prestise dari perasaan merasa eksklusif para executive yang bergaya elite. Aku tak begitu suka dengan itu, sobat. Mungkin, aku yang naif.

 

Aku lebih menyukai hamparan hijau rumput dan pepohonan. Semarak aneka warna bebungaan, yang menarik kumbang dan kupu menari mengitarinya. Ceracau burung yang terhimpun menjadi kidung. Aliran air yang menyungai, kemudian pergi melaut. Yah, aku sadar—ini Jakarta.

Setidaknya, pemandangan yang kunikmati sepanjang perjalanan ke kantor cukup menyenangkan hati. Bisa melihat kapal, sungai, laut, taman yang cukup luas dengan pokok-pokok cemara yang menjulang, tentu saja . . . ada sedikit lahan dengan hamparan rumput yang menghijau. Melihat hal sederhana demikian, sudah cukup indah dan menyenangkan bagiku. Perasaan menyenangkan di pagi hari sudah cukup untuk memulai hari dengan happy.

 

Oya, dalam perjalanan tadi aku melihat seorang ibu dengan anaknya yang beranjak remaja—anak lelaki yang cacat mental. Mereka hendak pergi ke sekolah, sepertinya. Aku berasumsi demikian, karena si anak mengenakan seragam sekolah dan si ibu yang menenteng tasnya. Si ibu berjalan tergopoh mengejar bus, sedangkan si anak berlari-lari kecil menyeimbangkan langkah ibunya. Pemandangan yang biasa memang. Tapi, ada sesuatu yang terlintas di benakku : “Mereka akan selalu bersama, sampai salah satunya meninggalkan dunia. Uhm, dialah anak yang akan selalu menjadi anak Ibu, tanpa pernah jauh dari sang ibu. Ibulah dunianya. Oh ibu, kasihmu . . . .”

 

Tak ada lagi kata yang melintas di benakku kala itu. Pikiranku menerawang, ada sedikit kabut di mataku . . . . Beberapa menit serasa tak menapak di bumi, hanyut dalam pikir. Untunglah, saat Metro Mini mulai mendekat ke perkantoranku, aku sudah terhubung dengan dunia nyata lagi. Terima kasih ya Allah, atas selayang pandang pagi ini. Dan wisata hati yang sesaat tadi.

  

*Catatan hati di pagi hari, 20 Maret 2010.

2 responses »

  1. hulaa…
    wah ganti theme yaa.. per kapan?
    maaf baru nongol lagi.. kerjaan lagi overload..
    badan mulai cekot2..
    jadi inget, umur makin menua.. huhuuhuhuh…

    Catatan pagi harinya seru juga..

    sabtu pagi ku?
    meluruskan badan di stasiun lempuyangan, setelah ketekuk lebih dari 10 jam..
    nyruput teh hangat di angkringan, isi perut dulu baru melanjutkan ke rumah

    • yup, sebelum ini sempet pake 2 theme lainnya
      sejak Sabtu atw Senin kemarin gitu deh
      Pak Tua, sudahlah ….(nyanyi *mode on) huehehe

      seru ?
      di bagian mananya, yah ? (garuk2 kepala *bingung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s