Mengubah Kebiasaan

Standar

Rinai hujan, mengawali pagi ini. Setidaknya, itulah yang berlaku di sekitar tempat tinggalku sejak pukul 04.30 WIB hingga 07.00 WIB tadi.

Terbangun pukul 04.00 WIB, niat sahur. Hanya meminum segelas susu coklat hangat, plus beberapa keping biskuit. Malas menyantap makanan berat, walau di meja makan sudah terhidang sayur bayam plus jagung manis beserta ikan gembung balado, baru saja matang. Yah, beberapa hari belakangan ini, Bunda sudah memasak lauk-pauk dari jam 03.30 WIB. Setelah itu, barulah beliau berangkat berjualan ke pasar.

Hari-hari sebelumnya, Bunda memasak lauk-pauk menjelang tengah hari, dilakukannya saat jam sepi pelanggan di pasar. Namun, karena ada seorang pedagang di sekitar tempat Bunda berjualan yang berkomentar tak mengenakkan hati, maka Bunda memilih mengubah kebiasaannya itu. Ya itu tadi, jadi bangun lebih awal agar bisa masak dulu sebelum berangkat ke pasar. Nah, menjelang makan siang, barulah Bokap mengantarkan nasi plus lauk-pauk ke pasar untuk Bunda dan adikku.

Masakan Bunda emang enak rasanya, apalagi harum bumbu yang tercium saat proses memasak…wuih, menerbitkan rasa lapar, deh ! Beberapa pedagang yang berjualan di sekitar Bunda, mengakui itu. Mereka kadang suka ikutan nimbrung saat Bunda masak di pasar. Ada yang cuma nyeletuk, “Harum banget, ‘Bun ! Masakannya….” Tapi, ada juga yang tak segan minta tuk sekedar mencicipi. Nah, keseringan begitu…mungkin itu juga salah satu faktor yang bikin Bunda keki. Lah, masaknya kan cuma cukup tuk keluarga sendiri, kalau banyak yang minta gimana dong ?! Ditambah komentar seseorang, “Alaa…gak usah lo muji-muji masakan Bunda, kayak dikasih aja ! Bunda kan pelit ?!” Wedew, komentar orang itu menohok perasaan Bunda sepertinya.

Oke, itu tadi sekilas proses Bunda mengubah kebiasaannya. Kini, beralih pada diriku.

Hari ini adalah hari keduaku untuk lagi-lagi bereksperimen dengan jam tidur. Belum pas menemukan waktu untuk mengolah kreativitas. Pagi hingga sore, waktuku habis untuk bekerja di kantor. Menjelang Maghrib, bahkan kadang pas Maghrib baru sampai di rumah. Lanjut sholat, mengaji, dan makan malam. Biasanya pada pukul tujuh atau setengah delapan malam, barulah aku memiliki waktu luang. Tapi, badan ini belum sempat meluruskan badan setelah seharian banyak duduk di kantor dan di angkot. Terus ngapain dong, selanjutnya ?

Seringnya sih, baca buku sambil tengkurap di atas tempat tidur. Tapi, sudah sebulan ini (kadang) terusik kegiatan baruku—ngedit novel perdana Bokap. Hehe, Anne bukan editor handal, tapi bisa diandalkan untuk karya Bokap tersayang. Walau sebenarnya badan lelah, mata udah sepet dengan angka dan huruf selama berjam-jam di depan komputer kantor…bagi Anne, bukanlah penghalang. Itung-itung ladang amal, berbakti pada ortu. Yah, sejam-dua jam kukorbankan waktu luangku untuk proses ngedit itu. Setelahnya, tidurlah. Walau udah dari jam sembilan malam di kamar, belum bisa tidur juga. Banyak yang dipikirin. Gak tau nih, otakku semakin aktif kalo menjelang tidur. Bikin susah tidur, kalo belum dituliskan tuh ide. Buntutnya, paling lambat jam setengah dua belas malam baru tidur.

Nah, tekadku kini…mengubah jam tidur, kalo aku menginginkan sesuatu yang “lebih” untuk menyalurkan kreativitasku. Oke, setting waktu ! Tidur jam sembilan malam, bangun jam empat pagi. Itu sih teorinya, prakteknya ? Hehe, nih mata baru terpejam jam sepuluhan. Bangunnya ? Harus disiplin ! Tetap harus bangun jam empat, dong ! Sepet deh matanya, kriyep-kriyep gitu. Biar rasa sendiri, begitu itu kalo gak disiplin ama peraturan yang dibuat sendiri, hahaa…. Harus keras ama diri sendiri, kalo gak ingin ngalami kehidupan yang keras. Bisa mati tergilas kita, bahkan mungkin tertindas, kalo gak mau keras ama diri sendiri.

Anganku tuh, dengan bangun jam empat pagi…bisa menulis selama satu jam. Kemudian sholat Subuh, diteruskan dengan jalan pagi keliling kampung selama setengah jam. Pulang, lanjut berbenah diri untuk berangkat kerja deh. Idealnya begitulah melewati hari, bagi Anne. Oke, kita lihat saja, efektifkah ? Atau perlu revisi lagi, untuk mengubah kebiasaan menjadi hal yang lebih positif dan bermakna untuk kehidupan. Karena hidup hanya sekali, hidup harus bermakna….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s