10 Tabu dalam Berkomunikasi dengan Anak

Standar

Berkomunikasi dengan anak menjelang remaja memang agak sulit. Jadi, ingat batasannya agar tak semakin menimbulkan masalah. Berbicara dengan anak remaja sebenarnya tak sulit bila Anda mampu menghindari cara berkomunikasi yang salah.

sumber gambar : http://images.google.co.id/imglanding?q=mom%20and%20teen%

Sebab, terkadang komunikasi bisa membuat situasi yang sudah buruk jadi bertambah buruk. Jadi, apa pun yang Anda lakukan, cobalah untuk menghindari cara bicara yang tak bisa diterima, seperti:

1. Menyalahkan

“Kamu malas, sih, Mama pusing jadinya!” Pernyataan negatif ini bisa menjadi masalah baru atas apa yang sesungguhnya ingin Anda selesaikan. Jika Anda ingin ia membereskan kamar tidur dengan cara menyalahkan, sama halnya memperhebat pertengkaran lebih dari sekadar kamar yang tak beres. Bahkan kini, karakternya menjadi rusak karena telah diperdebatkan.

Sebaiknya, Anda coba hindari berkata, “Mama merasa kamu …!” Atau, “Mama harap kamu …!” Tapi cobalah katakan, “Mama berharap kita setuju dan konsisten dengan keputusan kita. Menurutmu, bisakah kita melakukannya?”

2. Menyindir

“Kamu itu bodoh banget sih, masa begini saja tidak bisa” Hindari sindiran seperti ini karena akan sama saja dengan melempar minyak ke arah api, bukan memadamkannya.

3. Menyangkal pentingnya perasaan orang lain

Orang tua kerap berkata, “Mama tahu apa yang kamu rasakan, tapi …” Padahal, Anda tak tahu apa yang dirasakan sang anak. Atau, mungkin Anda memang tahu tapi menyangkal kesempatan anak remaja Anda untuk menyatakan apa yang dirasakannya, dan justru memperlihatkan padanya, Anda tahu semuanya dan tak mau mendengar.

4. Sarkasme

“Ini memang pintar untuk dilakukan, tapi apakah perlu kamu lakukan?” Kata-kata ini memberi kesan meremehkan, dan menghambat komunikasi lebih lanjut.

5. Membicarakan hal yang sudah lewat

“Dan satu lagi, kamu juga memperlakukan adikmu sangat buruk pada piknik tahun lalu.” Atau “Dan ingat, bagaimana dulu kamu merusak sweater Mama yang kamu pinjam?” Anda tak bisa langsung memperbaiki semua masalah di saat yang sama. Melemparkan terlalu banyak masalah dan membawanya ke pembicaraan baru hanya memastikan, Anda tak membahas permasalahan secara jelas.

6. Membuat menangis

“Jangan mulai menangis, atau nanti Mama kasih kamu sesuatu yang betul-betul akan membuat kamu tambah menangis!” Seringkali orang tua berkata demikian. Tapi, menangis adalah respons sebenarnya atas beberapa situasi. Anak remaja yang menangis di depan orang tuanya memperlihatkan rasa sakit hati atau penderitaannya. Hal ini tentu tak mudah bagi kedua pihak, jadi hormatilah perasaan sedih anak remaja Anda.

7. Ceramah

Penggunaan kata-kata, “Harus begini!” atau “Jangan begitu!” kepada anak remaja memberi kesan Anda sedang berceramah. Hal ini akan menghentikan komunikasi antara Anda dengannya. Sebaiknya, cobalah memberi kesan mengajar, bukan menceramahi.

8. Memberi perintah

Kegagalan yang umum dilakukan orang tua adalah menyuruh anak remaja dengan nada memerintah misalnya, “Bersihkan kamarmu!” atau “Cepat berpakaian!” atau “Jangan terlambat bangun!” Cara ini justru membuat anak jadi tak mempedulikan Anda.

9. Mengganggu

Seperti sarkasme, mengganggu atau menyindir anak remaja akan memberi kesan, Anda meremehkannya. Bila mengganggu menjadi suatu kebiasaan, justru akan menjadi masalah, dan tak akan menyelesaikannya.

10. Berlebihan

“Bereskan kamarmu! Jika tidak, kamu tak akan punya rumah. Tidur saja di emperan!” atau “Kamu memang tak pernah bisa melakukan apa-apa ya?” Anda hanya membesar-besarkan masalah, yang mengakibatkan terhambatnya Anda dalam menyelesaikan masalah.  (Erabaru/hui)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s