Beludak Asa….Pengen Rujak !!!

Standar

Kemarin sore pulang kerja, pengen beli rujak….tapi urung, karena bumbu rujak si Abang itu pedes banget. Nggak cocok ama perut Anne yang sensitif. Eh, di angkot ngeliat anak SMA lagi asyik makan jambu air warna merah segar + bumbu rujak. Cesss….bikin ngiler !

Okelah kalo begitu. Sampe di rumah, mengintai buah-buahan yang bergelantungan di pohon yang ada di halaman depan. Ada apa aja kah ?

Di samping pintu pagar, letaknya hampir di tengah halaman, ada pohon Mangga yang sedang berbuah. Belum ada yang ranum. Di kanan halaman, ada pohon jambu air berwarna hijau pucat dengan nuansa pink di bagian ujungnya….hmm, ukurannya besar-besar. Cocok, nih ! Di kiri halaman, ada pohon jambu air (lagi) ! Cuma, yang ini ukuran buahnya imut-imut sekali. Rasanya asem. Tapi, warnanya merah darah. Wah, cocok juga, nih !

Dari tadi bilang cocok….cocok, mulu. Apa’an sih, yang cocok ?

Begini, Kawan….Anne berniat bikin RUJAK sendiri. Tentunya dengan bumbu yang tidak terlalu pedas.

Kulik resepnya, yuk mari….

Cek, baby cek. Buka kulkas, nyari gula merah en asam jawa. Wah, cuma ada asam jawa. Gula merahnya nggak ada. Telepon Bunda di pasar, akh !

 

“Bun, ntar pulang bawain minyak goreng, ya ?”

(loh?! Yang nggak ada gula merah, kok si Anne malah minta minyak goreng ? Gak salah, tuh ? Hehe, usut punya usut….Anne pengen goreng kerupuk en emping, cuy !)

“Oya, Bun ! Bawain gula merah juga, pengen bikin rujak. Ama beli’in Nenas, ya ?”

“Iya, apa lagi ?” sahut Bunda.

“Udah, itu aja.”

Sambil menunggu Bunda datang, Anne goreng kerupuk en emping dengan minyak goreng yang ada. Ternyata, minyaknya cukup untuk goreng, kok. Biar minyak yang dibawa Bunda nanti untuk persiapan masak lainnya.

 

Usai sholat Maghrib en mengaji, Anne mulai mencacah buah-buahan yang mau dirujak : 1 buah mangga mengkal (wee….asem banget rasanya) + 3 buah timun (yang ini seger rasanya) + 1 buah nenas (manis, bo) + belasan jambu air imut-imut warna merah (kecut !) + belasan jambu air big size warna hijau pucat (lumayan manis). Makan waktu 2 jam, tuh….untuk ngupas en motongin semua buah itu jadi kecil-kecil.

Oya, saran dari Anne nih :

Yang namanya makanan, harus sedap dipandang + nikmat di lidah. Meminjam istilah Bokap : “Ada rupa, ada rasa….Itu baru siip !” Nah, warna rujak ini : merah (jambu), kuning (nenas), ijo (jambu + timun), putih (mangga mengkal). Lumayan bervariasi lah warnanya, rasanya juga : manis, asem, asin, en (sedikit) pedas. Sedap dipandang en lezat dirasa.

 

Di tengah pekerjaan kupas-mengupas, Anne menjerang 1 liter air untuk kuah rujaknya nanti. Air itu direbus hingga mendidih, tak lupa dimasukkan bumbunya. Apa aja ? 15 keping gula merah yang sudah diiris halus (biar cepat lumer) + 3 sdt asam jawa + garam secukupnya + gilingan cabe merah plus rawit merah (kadar pedas sesuai selera). Setelah mendidih, dinginkan.

Nah, saat buah-buahan sudah selesai dipotongi, masukkan ke dalam kuah rujak tadi. Wow, jadinya sepanci, nih ! Ya terang aja, kuah rujaknya 1 liter + buah ada sebaskom dengan volume 2 liter. Hehe, biar puas makan rujaknya. Anne bawa sebungkus ke kantor, enak dimakan dingin saat siang nanti. Sementara itu, Anne simpan dulu di kulkas kantor. Nyam….nyaam.

sumber gambar : google images

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s