Ibu Berduka

Standar

Sabtu, 14 Agustus 2010 adalah hari berduka untuk Ibu.

Innalillahi wa innailaihi rojiun . . .

Sang suami berpulang kepada Sang Khalik, setelah 2 bulan terbaring koma.

Terkena S T R O K E !

Lepas Ibu menunaikan shalat Maghrib di hari keempat Ramadhan, lepas pula deritanya.

Sang suami meninggalkan keempat anaknya yang kini menjadi yatim, setelah menjadi piatu sebelumnya.

Ya, Ibu adalah ibu pengganti untuk ketiga anaknya dari istri terdahulu.

Si bungsu yang keempat adalah anak sang suami dengan Ibu.

Semua yang telah Ibu lakukan, Ibu perjuangkan . . .

Semoga menjadi amalan baik untuk Ibu kelak.

Sebagai bakti Ibu dan kesetiaan Ibu kepada sang suami.

Amin.

Malam itu juga.

Ibu pergi bersama si bungsu yang beranjak remaja, adik ipar, dan seorang karib.

Berambulans ke Malang dari Jakarta.

Hendak mengantarkan jenazah ke peristirahatannya yang terakhir.

Mengebumikannya di kampung halaman sang suami.

Maaf Ibu,

Saya tak hadir kala itu.

Entah sekalut apa pikirmu, Ibu.

Entah sengkarut menjamah rautmu, Ibu ?

Belum lagi ulah si anak kedua sang suami ya, Ibu ?

Semoga Allah selalu menjagamu.

Yakinlah, Ibu . . .

Semua akan baik-baik saja.

Mungkin ini cara Tuhan untuk mendekatkan kita.

Semoga.

Saya rindu memeluk Ibu sepuasnya.

Tanpa ada tatap cemburu yang menguntit kita.

Tanpa ada prasangka menyerta.

Saya rindu terbaring di samping Ibu.

Yang entah kapan terakhir kita melakukannya.

Saya sudah lupa bau Ibu,

Rasa memiliki seorang Ibu.

Selalu kalbu tempat saya mengadu tentang semua rindu pada Ibu.

Yang saya punya hanya sepenggal kenangan masa kecil.

Ada Ibu, Bapak, Saya, dan adik-adik.

Kita satu untuk sesaat.

Lalu terkoyak.

Melalui titian waktu.

Semua berlalu.

Yang kosong segera diisi.

Tergenapi.

Hati ini belajar memahami,

Walau kadang terbetik iri

Ada ibu bersama anak gadisnya.

Hatiku belajar memendam rindu pada Ibu.

Ibu adalah Ibu,

takkan pernah terganti.

 

Semoga ini yang terbaik untuk kita, Ibu.

Awal dari kebersamaan kita.

Menyambung memori saya tentang Ibu.

Biarlah cerita lalu saya tanpa Ibu,

tapi kelak ada Ibu dalam lanjutan kisah hidup saya.

Walau kita tak pernah bersama.

Kupanjatkan doa selalu untukmu, Ibu.

sumber gambar : http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://oktaplantlover.files.wordpress.com/2009/09/mother_child_720.jpg&imgrefurl=http://oktaplantlover.wordpress.com/page/2/&h=574&w=720&sz=111&tbnid=eaOkNwsBSBmfjM:&tbnh=112&tbnw=140&prev=/images%3Fq%3Dmother%2Bimages&usg=__-VV567vNHTdheQhzXBcV7-EBTEA=&sa=X&ei=48xoTJSIA4aEvAO_h4D-Aw&ved=0CCYQ9QEwBQ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s